JAKARTA - Australia pada Senin 17 November menolak tawaran Turki untuk menjadi tuan rumah bersama Konferensi Perubahan (KTT) Iklim PBB ke-31 (COP31) pada 2026.
Perdana Menteri (PM) Australia Anthony Albanese tegas menentang usulan untuk menjadi tuan rumah bersama dengan Turki tersebut.
“Itu bukan pilihan, dan orang-orang menyadari bahwa itu bukan pilihan, itulah sebabnya usulan tersebut telah dikesampingkan,” ujarnya dikutip dari AFP, Senin 17 November.
Australia dan Turki berada di bawah tekanan untuk memecahkan kebuntuan dan menghindari situasi di KTT COP30 Brasil yang memperkenalkan Deklarasi Belem diikuti 35 negara untuk mempercepat transisi menuju ekonomi hijau, Jumat 14 November.
Adapun penyelenggara KTT Iklim PBB sedianya dipilih secara konsensus, jika Turki dan Australia menolak jadi tuan rumah bersama maka hal itu belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan demikian, mengakibatkan hak tuan rumah COP31 jatuh ke tangan Jerman.
BACA JUGA:
Sebelumnya, Australia mengajukan tawaran untuk menjadi tuan rumah sendiri KTT Iklim COP31 2026 di Kota Adelaide bersama negara-negara tetangganya di Kepulauan Pasifik, dengan harapan dapat menyoroti bagian dunia yang sedang terpukul oleh dampak perubahan iklim.
Namun, tugas menjadi tuan rumah juga akan memicu pengawasan ketat terhadap rekam jejak hijau Australia. Sebagai eksportir batu bara terbesar kedua di dunia, Australia telah lama mengambil keuntungan dari ekspor bahan bakar fosil dan memperlakukan aksi iklim sebagai beban politik dan ekonomi.
Kebuntuan terkait tuan rumah KTT Iklim COP31 2026 ini membuat Brasil selaku penyelenggara COP30 menunjuk seorang perwakilan untuk membantu menyelesaikan perselisihan antara Australia dan Turki.
Di satu sisi, pada awal November 2025, Partai Liberal dan Partai Nasional oposisi utama di Australia telah memegang teguh menolak rencana Pemerintah PM Albanese dalam pencapaian emisi nol bersih pada tahun 2050.
Partai Liberal memastikan janji itu akan direalisasikan jika mereka berkuasa di Australia.
Partai politik yang berhaluan kanan-tengah tersebut telah terlibat dalam diskusi panjang dalam beberapa pekan terakhir mengenai mewujudkan rencana Ketua Umum Partai Liberal Scott Morrison tentang janji iklim saat menjabat Perdana Menteri Asutralia pada 2021.