JAKARTA - Kolombia mengucapkan terima kasih kepada Kerajaan Spanyol membantu pesawat yang ditumpangi Presiden Kolombia, Gustavo Petro, saat mendapat gangguan akibat sanksi Presiden AS Donald Trump terhadap Petro.
Pesawat rombongan Presiden Kolombia itu ditolak mengisi bahan bakar saat melakukan perjalanan ke Timur Tengah hendak transit di Bandara Barajas Madrid, Spanyol.
Menteri Dalam Negeri Kolombia, Armando Benedetti menjelaskan, perusahaan pengisian bahan bakar penerbangan di Barajas khawatir melanggar sanksi AS terhadap Petro.
"Perusahaan yang menjual bahan bakar atau menyediakan layanan kebersihan atau tangga keberangkatan (di bandara) hampir selalu milik Amerika," katanya di akun X-nya, dikutip dari AFP, Jumat 31 Oktober.
Pemerintahan Presiden AS Donald Trump diketahui memasukkan nama Presiden Kolombia yang berkuasa saat ini ke dalam daftar sanksi Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri (OFAC) Departemen Keuangan AS dengan tudingan Petro mendukung kartel narkoba.
"Mereka menolak menyediakan layanan (pengisian bahan bakar) karena (daftar) OFAC," ujar Benedetti.
BACA JUGA:
Akibat sanksi itu, Petro beserta istrinya, Veronica Alcocer, dan keduan putranya, Nicolas, dan Benedetti, dilarang bepergian ke AS. Aset AS apa pun yang mereka miliki juga dibekukan.
Perusahaan AS atau perusahaan dengan modal AS juga dilarang berbisnis dengan mereka.
Sanksi AS yang dijatuhkan kepada Petro pada 24 Oktober menyusul ketegangan selama berbulan-bulan antara Trump dan Petro terkait deportasi migran AS dan serangan terhadap kapal-kapal yang masih diduga mengangkut narkoba di lepas pantai Amerika Selatan.
Petro, mantan gerilyawan sayap kiri, dengan keras membantah terlibat dalam perdagangan narkoba dan berpendapat bahwa perdagangan kokain terutama didorong oleh permintaan di AS dan Eropa.