JAKARTA - Warga Penjaringan Jakarta Utara mengeluhkan proyek pembangunan Tol Harbour Road II Ancol yang dikerjakan oleh PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP).
Proyek tersebut dianggap warga menimbulkan dampak buruk bagi ekonomi warga hingga penutupan akses jalan. Tokoh masyarakat RW 13 Penjaringan, Rochimmanto, mengecam keras pembangunan proyek itu.
"Ya kezaliman yang pertama,;mereka tidak memikirkan UMKM yang ada di wilayah RW 13. Kedua, kezalimannya ini mereka tidak, sebelum melakukan kompensasi, tidak ada diskusi, tidak ada solusi tentang masalah UMKM yang mau dipindahkan kemana, apapun segala macam," ujar Rochimmanto kepada wartawan, Senin
Sebagai bentuk protes, warga juga membuka posko pengaduan atas proyek yang dinilai mereka zalim tersebut.
"Yang ketiga, akses nanti pasca pembangunan ini motor ataupun mobil ataupun semua itu tidak akan bisa lewat," sambungnya.
Rochimmanto menjelaskan, pada tahap awal pembangunan minim sekali sosialisasi yang dilakukan pihak CMNP kepada warga. Padahal, seharusnya CMNP menemui tokoh masyarakat sekitar untuk berdiskusi soal dampak sosial, ekonomi dan dampak kenyamanan yang diderita masyarakat atas pembangunan itu.
"Tidak adanya musyawarah ataupun pemanggilan terhadap tokoh yang ada untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan," katanya.
Dia menyebut, pihak CMNP hanya mendatangi warga lalu memberikan satu kali kompensasi atas pembangunan jalan tol itu. Namun, kompensasi itu justru merugikan warga sebab akses keluar masuk warga kini tertutup.
"Iya (ngasih kompensasi), cuman ya nggak ada arti, ditutup aksesnya ngga jualan, sama aja tuh zalim dong. Mereka perusahaan besar, tapi tidak memikirkan masyarakat yang terdampak ekonomi seperti ini," ujarnya.
BACA JUGA:
Rochimmanto mengaku akibat terdampak proyek tersebut terpaksa menutup toko miliknya, karena penutupan akses jalan. Dia menegaskan bahwa proyek jalan itu hanya menyisakan satu jalan yang hanya bisa dilalui motor, namun jalannya rusak.
"Jadi saya pernah nanya, gimana nih dampak ekonominya. Saya bilang, akses saya tertutup, toko saya tertutup saya bilang saya memenuhi kebutuhan keluarga bagaimana? Saya bilang gitu. Ya dia (CMNP) nggak ada jawaban. Kurang ajar gitu loh," ucapnya.
Dia menjelaskan, proyek tersebut berdampak buruk terhadap kelangsungan hidup puluhan warga.
"Kurang lebih (warga terdampak) aksesnya ini ada sekitar 20 sampai 25 warga lah, karena ada juga tukang bajaj, ada juga bengkel, ada juga tukang mie, Ada juga ya macam-macam lah gitu, bingung kan gimana caranya jualan dan dimana," pungkasnya.