JAKARTA - Kericuhan pecah saat ribuan massa berunjuk rasa di Tunisia selatan menuntut penutupan pabrik pupuk kimia tua yang dituding sebagai penyebab keracunan dan masalah kesehatan setempat.
Mengutip AFP, Kamis 16 Oktober, kericuhan terjadi saat massa yang long march mendekati pabrik Tunisian Chemical Group pada Rabu 15 Oktober.
Polisi menembakkan gas air mata dalam jumlah besar untuk memukul mundur massa. Namun, massa yang rata-rata remaja tidak bergeming membalasnya dengan lemparan benda ke arah aparat.
Dalam beberapa minggu terakhir, sebanayk 122 orang dirawat di rumah sakit di Kota Gabes atas kasus-kasus yang dituduhkan akibat pabrik tersebut. Penduduk setempat menuding limbah yang berpotensi tinggi kanker dari pabrik Tunisian Chemical Group pengolahan fosfat di dekatnya.
"Ini harus dihentikan. Saya dan ketiga anak saya menderita asma, suami dan ibu saya meninggal karena kanker akibat" pabrik tersebut, kata Lamia Ben Mohamed, seorang pengunjuk rasa berusia 52 tahun.
“Kami ingin bernapas,” teriak para pengunjuk rasa, sementara puluhan sepeda motor di barisan terdepan membunyikan klakson.
BACA JUGA:
Pantuan jurnalis AFP dan sumber kepolisian, jumlah massa awalnya sekitar 2.000 orang kemudian berkembang menjadi beberapa ribu orang.
Diorganisir oleh kolektif Stop Pollution, demonstrasi tersebut menuntut penutupan pabrik pupuk tua tersebut, yang pembuangan limbahnya ke Laut Mediterania menyebabkan protes di kalangan warga Gabes sejak lama.
Penduduk juga menyalahkan pabrik tersebut atas menurunnya jumlah ikan, polusi pantai, penyakit pernapasan, dan kanker.
Kecaman tersebut semakin meningkat dalam sebulan terakhir hingga berujung aksi massa kemarin.