Bagikan:

JAKARTA - Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky pada hari Rabu menuduh Rusia mencoba menciptakan risiko insiden nuklir, menuduh Moskow sengaja melancarkan serangan yang memutus aliran listrik ke PLTN Chornobyl yang telah dinonaktifkan.

Kementerian Energi Ukraina mengatakan, serangan Rusia telah memutus aliran listrik ke PLTN Chornobyl, termasuk unit penahanan yang didirikan untuk meminimalkan kontaminasi dari kecelakaan nuklir terbesar di dunia pada tahun 1986.

Para pejabat energi mengatakan serangan tersebut juga memutus aliran listrik ke 307.000 pelanggan di wilayah Chernihiv di dekatnya.

Presiden Zelensky mengatakan lebih dari 20 pesawat nirawak Rusia telah dikerahkan dalam serangan di Kota Slavutych yang memutus aliran listrik ke PLTN Chornobyl di dekatnya selama tiga jam.

"Rusia pasti tidak menyadari serangan terhadap fasilitas di Slavutych akan berdampak seperti itu bagi Chornobyl," tulisnya di aplikasi perpesanan Telegram, seraya menambahkan sejumlah besar bahan bakar bekas masih tersisa di sana, melansir Reuters 2 Oktober.

"Dan ini adalah serangan yang disengaja di mana mereka menggunakan lebih dari 20 pesawat nirawak, menurut penilaian awal, milik Shahed Rusia-Iran," lanjutnya.

IAEA, badan pengawas nuklir PBB, mengeluarkan pernyataan yang mengakui PLTN tersebut telah mengalami "fluktuasi" setelah kehilangan sambungan listrik eksternalnya, tetapi jalur alternatif telah digunakan pada awalnya dan listrik kemudian dipulihkan.

Rusia belum mengomentari insiden tersebut.

Sementara itu, pernyataan Kementerian Energi Ukraina tidak menyebutkan kemungkinan peningkatan risiko pelepasan radioaktif akibat pemadaman listrik ke PLTN Chornobyl yang telah ditutup akibat serangan Rusia di Slavutych.

"Akibat lonjakan daya, fasilitas penahanan aman yang baru, yang mengisolasi unit daya keempat PLTN Chornobyl yang hancur dan mencegah pelepasan bahan radioaktif ke lingkungan, dibiarkan tanpa pasokan listrik," kata kementerian tersebut.

Diketahui, setelah reaktor keempat PLTN Chornobyl meledak pada April 1986 dan menyebarkan radioaktivitas ke seluruh Eropa, para insinyur Soviet segera mendirikan "sarkofagus" di sekitar reaktor.

Sarkofagus ini digantikan oleh struktur penahanan baru pada tahun 2016, sementara tiga reaktor lainnya di PLTN tersebut secara bertahap dihentikan operasionalnya.

PLTN tersebut sempat diduduki oleh pasukan Rusia pada awal invasi Moskow ke Ukraina pada tahun 2022. Sebuah pesawat nirawak Rusia juga menembus atap struktur penahanan tersebut pada Bulan Februari.