Bagikan:

JAKARTA - Kepala Regional Makan Bergizi Gratis (MBG) Kalimantan Barat (Kalbar), Agus Kurniawan memastikan mengambil langkah cepat menginvestigasi terkait dugaan kasus keracunan yang menimpa siswa SDN 12 Benua Kayong, Kabupaten Ketapang, usai mengonsumsi menu MBG.

"Kami melakukan investigasi terhadap dapur MBG di Ketapang yang mengakibatkan sejumlah siswa keracunan makanan," kata Agus di Pontianak, Jumat, disitat Antara.

Agus menyebutkan, dari 24 siswa yang sempat terdampak, masih ada tiga anak yang memerlukan pemantauan karena mengalami gejala mual, pusing, dan demam.

"Kami sudah berkoordinasi dengan Satgas MBG yang terdiri dari Dinas Pendidikan, Bappeda, dan Dinas Kesehatan. Saat ini kami masih menunggu hasil uji laboratorium dari BPOM terhadap sampel makanan yang dikirim oleh Satuan Penyedia Pangan Gizi (SPPG)," tuturnya.

Untuk sementara, operasional SPPG yang memproduksi paket MBG di Ketapang dihentikan sampai hasil investigasi resmi dari BPOM keluar. Sebelumnya sejumlah pelajar SDN 12 Benua Kayong diduga keracunan paket makanan dari Program MBG. Salah satu menu makanannya, potongan ikan hiu goreng.

"Kepala SPPG terpaksa dirumahkan sementara, menunggu kepastian hasil uji resmi," kata Agus.

Menurut Agus, insiden ini akan menjadi bahan evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme pelaksanaan MBG di Kalbar. Pihaknya akan memperketat pengawasan, mulai dari kualitas air, kebersihan bahan baku, hingga proses produksi dan distribusi makanan.

"Kami ingin memastikan makanan yang dikonsumsi anak-anak benar-benar aman, sehat, dan bergizi," kata dia.

Agus menekankan, dugaan kasus keracunan di Ketapang merupakan insiden pertama yang terjadi sejak Program MBG berjalan di Kalbar.

Ia berharap kejadian ini menjadi pelajaran penting bagi seluruh pihak terkait agar lebih teliti dan berhati-hati dalam menjaga mutu makanan yang diberikan kepada peserta didik.

Sementara itu, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Banyumas di Jawa Tengah juga tengah menyelidiki dugaan keracunan makanan yang dialami puluhan siswa SD di Desa Pangebatan setelah mengonsumsi menu MBG.

Kepala Bidang Pembinaan SD Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Banyumas Taryono mengatakan pihaknya telah berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Banyumas, Badan Gizi Nasional (BGN), dan Koordinator Wilayah Kecamatan (Konwircam) Disdik Karanglewas terkait dengan permasalahan tersebut

"Atas perintah Sekretaris Dinas Pendidikan, seluruh Korwilcam harus melaporkan secara berjenjang terkait dengan kegiatan MBG dan kejadian sekecil apapun agar dapat segera ditangani," katanya di Purwokerto, Banyumas, Jumat.

Ia mengatakan hal itu dilakukan karena pada awalnya Disdik Banyumas belum menerima laporan terkait kasus dugaan keracunan yang terjadi pada Selasa 23 September dan Rabu 24 September tersebut.

Oleh karena itu pihaknya segera melaporkan kejadian tersebut ke BGN dan meminta penghentian sementara pengiriman makanan MBG dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) setempat.

Ia menduga tidak sampainya laporan kejadian keracunan itu ke Disdik Banyumas karena adanya klausul dalam perjanjian kerja sama dengan SPPG yang mewajibkan pihak sekolah menjaga kerahasiaan jika terjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).

"Dalam rapat dengar pendapat dengan Komisi IV DPRD Banyumas, kami sudah menyampaikan keberatan, dan pihak SPPG menyatakan akan mengubah isi perjanjian," kata Taryono.

Dalam kesempatan terpisah, Kepala Dinkes Kabupaten Banyumas Dani Esti Novia mengatakan pihaknya telah mengerahkan tim ke lapangan untuk menyelidiki kasus dugaan keracunan tersebut.

Berdasarkan informasi awal, lanjutnya, sekitar 70 siswa mengalami gejala mual, muntah, hingga radang tenggorokan sejak Selasa 23 September dan Rabu 4 September. "Sementara ada 70 anak, tetapi kami masih menunggu hasil pemeriksaan tim di lapangan," katanya.

Sementara itu Kepala SD Negeri Pangebatan Riyadi memutuskan untuk menghentikan sementara penerimaan makanan Program MBG bagi siswanya menyusul dugaan keracunan yang dialami puluhan anak di sekolah tersebut.

“Mulai hari Rabu (24 September) sampai hari ini tidak dikirim, sembari memantau kondisi anak-anak di sini. Kalau sekolah lain saya kurang tahu, yang saya tahu SDN 1 Kediri infonya juga menyetop," katanya

Ia mengatakan indikasi keracunan mulai diketahui setelah menerima telepon dari Kepala SD Negeri 2 Kediri, Kecamatan Karanglewas, pada Rabu 24 September siang.

Dalam hal ini, kata dia, Kepala SD Negeri 2 Kediri menanyakan apakah SD Negeri Pangebatan mengalami permasalahan terkait dengan MBG.

"Setelah saya konfirmasi ke guru, kemudian kami cek, dan kami data, ternyata banyak siswa tidak masuk. Keterangan orang tua menyatakan anak-anak mengalami pusing, diare, mual, dan muntah,” katanya.

Berdasarkan catatan pihak sekolah, kata dia, hingga Jumat 26 September, masih ada puluhan siswa yang tidak masuk sekolah. Menurut dia, penghentian sementara distribusi menu MBG dilakukan semata-mata untuk memastikan keamanan dan kesehatan siswa.

"Kami juga terus berkoordinasi dengan guru, orang tua, dan tenaga kesehatan terkait perkembangan kondisi anak-anak yang terdampak," katanya.