JAKARTA - Otoritas Korea Selatan pada Hari Senin, pihaknya tengah berunding dengan Amerika Serikat untuk mengizinkan masuknya kembali ratusan warga negaranya yang ditangkap minggu lalu dalam penggerebekan imigrasi AS di sebuah proyek aki mobil dan akan segera dipulangkan.
Sekitar 300 warga Korea Selatan termasuk di antara 475 orang yang ditangkap pada Hari Kamis di lokasi proyek senilai 4,3 miliar dolar AS yang dikerjakan oleh Hyundai Motor dan LG Energy Solution untuk memproduksi aki mobil listrik di di Ellabell, Negara Bagian Georgia.
Ini adalah operasi penegakan hukum di satu lokasi terbesar dalam sejarah operasi investigasi Departemen Keamanan Dalam Negeri, dan mengirimkan gelombang kejut ke Korea Selatan, sekutu AS yang telah berusaha menyelesaikan kesepakatan perdagangan dan disepakati pada Bulan Juli.
Penggerebekan itu terjadi 10 hari setelah presiden baru Korea Selatan, Lee Jae-myung, bertemu dengan Presiden AS Donald Trump di Washington dan keduanya menjanjikan hubungan bisnis yang lebih erat.
Menteri Luar Negeri Korea Selatan Cho Hyun, yang berbicara kepada para wartawan sebelum berangkat ke AS pada Hari Senin, menyebut penahanan warga Korea Selatan sebagai "situasi yang gawat" dan mengatakan ia akan bekerja sama dengan Washington untuk mengambil langkah-langkah guna mencegah insiden serupa.
"Sejak awal, kami bernegosiasi dengan premis bahwa tidak boleh ada kerugian pribadi (bagi para pekerja yang ditahan)," kata Menlu Cho dalam sidang parlemen pada Hari Senin, melansir Reuters 9 September.
Seoul mengatakan pada Hari Minggu, diskusi untuk mengatur pembebasan para pekerja, yang sebagian besar dipekerjakan oleh subkontraktor, sebagian besar telah selesai.
Rencana sedang disusun untuk menerbangkan mereka pulang dengan pesawat carteran minggu ini, dengan apa yang disebut oleh seorang pejabat Kementerian Luar Negeri Korea Selatan sebagai "keberangkatan sukarela".
Sementara itu, Menteri Keamanan Dalam Negeri AS Kristi Noem mengatakan, banyak orang yang ditahan dalam operasi Georgia akan dideportasi.
"Orang-orang yang berada di negara ini secara ilegal perlu tahu sekarang juga, hari ini, bahwa mereka memiliki kesempatan untuk pulang sebelum ditahan," kata Menteri Noem kepada wartawan di sela-sela pertemuan tingkat menteri di London.
Detail tentang bagaimana para pekerja tersebut mungkin melanggar aturan imigrasi belum dirilis oleh pihak berwenang maupun perusahaan.
Tetapi, anggota parlemen Korea Selatan mengatakan pada Hari Senin, beberapa pekerja mungkin telah melanggar batas program bebas visa 90 hari atau visa bisnis sementara B-1.
Menteri Keuangan Koo Yun-cheol mengatakan telah mendengar beberapa ahli telah datang dari Korea Selatan untuk membantu uji coba pabrik tersebut, yang dijadwalkan mulai berproduksi pada Bulan Oktober.
"Anda perlu mendapatkan visa untuk melakukan uji coba, tetapi sangat sulit untuk mendapatkan visa resmi. Waktu hampir habis, dan saya pikir para ahli telah pergi ke Amerika Serikat," jelasnya.
Seoul sendiri menyatakan ketidakpuasannya atas penangkapan tersebut dan perilisan rekaman publik yang menunjukkan operasi tersebut, yang melibatkan kendaraan lapis baja dan pembelengguan pekerja.
BACA JUGA:
Sementara itu, Presiden Trump, yang telah meningkatkan deportasi di seluruh negeri seiring pemerintahannya menindak imigran ilegal, mengatakan pekan lalu bahwa ia tidak mengetahui penggerebekan tersebut. Ia menyebut mereka yang ditahan sebagai "alien ilegal".
Pada Hari Minggu, Ia meminta perusahaan asing yang berinvestasi di AS untuk "menghormati undang-undang imigrasi negara kita", tetapi terdengar lebih lunak.
"Investasi Anda disambut baik, dan kami mendorong Anda untuk secara legal membawa orang-orang Anda yang sangat cerdas, dengan bakat teknis yang hebat, untuk membangun produk Kelas Dunia, dan kami akan memungkinkan Anda melakukannya dengan cepat dan legal," ujarnya di Truth Social.