Bagikan:

JAKARTA - Korban tewas akibat agresi dan kelaparan di Jalur Gaza, Palestina terus bertambah, saat Israel mengancam meningkatkan serangan wilayah kantong Palestina itu, sementara pejabat PBB memperingatkan hal semacam itu hanya memicu lebih banyak kekerasan.

Setidaknya 64.522 warga Palestina telah tewas, sementara 163.096 orang luka-luka dalam perang genosida Israel di Jalur Gaza sejak Oktober 2023, ungkap Kementerian Kesehatan Gaza pada Hari Senin.

"Banyak korban masih terjebak di bawah reruntuhan dan di jalan karena tim penyelamat tidak dapat menjangkau mereka," kata kementerian, seperti dikutip dari Anadolu 9 September.

Lebih jauh kementerian mencatat, jumlah itu termasuk korban tewas Palestina saat mencari bantuan yang mencapai 2.430 orang dan 17.794 lainnya luka-luka sejak 27 Mei.

Itu juga termasuk korban tewas akibat kelaparan dan malnutrisi di Gaza yang telah mencapai 393 orang, 140 di antaranya anak-anak, sejak Oktober 2023.

Menurut kementerian, 115 kematian, 25 di antaranya anak-anak, terjadi setelah sistem pemantauan kelaparan Terpadu Klasifikasi Fase Keamanan Pangan (IPC) yang didukung PBB secara resmi menyatakan Gaza sebagai zona kelaparan bulan lalu.

Konflik terbaru di Gaza pecah usai kelompok militan yang dipimpin Hamas menyerang wilayah selatan Israel, menewaskan 1.200 orang dan 251 lainnya disandera, menurut perhitungan Israel seperti melansir Reuters.

Kedua belah pihak yang berkonflik menyepakati gencatan senjata sementara yang dijembatani Qatar, Mesir dan Amerika Serikat pada 19 Januari.

Sejak 2 Maret, otoritas Israel telah menutup semua perlintasan perbatasan Gaza, yang menyebabkan 2,4 juta penduduk wilayah tersebut dilanda kelaparan. Israel mengklaim ini untuk menekan Hamas agar segera menerima usulan kesepakatan gencatan senjata.

Tentara Israel kemudian melanjutkan serangannya di Jalur Gaza pada 18 Maret, seiring berakhirnya gencatan senjata sementara.

Bulan lalu, Kabinet Keamanan Israel menyetujui rencana memperluas operasi militer di Gaza, namun hanya menyetujui pengambilalihan Kota Gaza. Sejak Itu, Israel Defense Forces (IDF) meningkatkan serangan ke Gaza.

Kemarin, Israel memerintahkan warga Kota Gaza untuk segera meninggalkan wilayah tersebut setelah memperingatkan pihaknya akan meningkatkan serangan udara dan operasi darat di Jalur Gaza dalam "badai dahsyat", jika Hamas tidak membebaskan sandera terakhir yang ditahannya dan menyerah.

Dalam apa yang disebutnya sebagai peringatan terakhir, militer Israel memberitahu kelompok militan Palestina bahwa Gaza akan dihancurkan jika tidak melucuti senjata dan membebaskan 48 sandera yang disandera.

"Badai dahsyat akan menerjang langit Kota Gaza hari ini, dan atap menara teror akan bergetar," tulis Menteri Pertahanan Israel Israel Katz di X.

"Ini adalah peringatan terakhir bagi pembunuh dan pemerkosa Hamas di Gaza dan di hotel-hotel mewah di luar negeri: Bebaskan sandera dan letakkan senjata kalian - atau Gaza akan dihancurkan, dan kalian akan dimusnahkan," tambahnya.

Terpisah, Komisaris Tinggi Hak Asasi Manusia (HAM) Perserikatan Bangsa-Bangsa Volker Türk mengatakan, "militerisasi lebih lanjut, pendudukan, aneksasi, dan penindasan hanya akan memicu lebih banyak kekerasan, balas dendam, dan terorisme."

"Komunitas internasional tidak menjalankan tugasnya. Kita gagal melindungi rakyat Gaza. Di mana langkah-langkah tegas untuk mencegah genosida? Mengapa negara-negara tidak melakukan lebih banyak untuk mencegah kejahatan mengerikan? Negara-negara harus menghentikan aliran senjata yang mungkin melanggar hukum perang ke Israel," dalam pidato pembukaan sidang ke-60 Dewan Hak Asasi Manusia PBB di Jenewa, Swiss, pada Hari Senin, dikutip dari WAFA.

Türk menekankan pentingnya untuk meningkatkan tekanan guna mencapai gencatan senjata, membebaskan tahanan dan orang-orang yang ditahan secara sewenang-wenang, serta menyalurkan bantuan kemanusiaan yang memadai ke Jalur Gaza.