JAKARTA - Kepala Badan PBB untuk Pengungsi Palestina pada Kamis mengutarakan kekhawatiran bahwa anak-anak yang menderita kekurangan gizi di Jalur Gaza, Palestina akan meninggal jika langkah-langkah darurat tidak segera diterapkan selama operasi militer Israel di Kota Gaza.
Komisaris Jenderal UNRWA Philippe Lazzarini mengatakan, data mereka menunjukkan jumlah anak yang mengalami gizi buruk di Kota Gaza meningkat enam kali lipat sejak Maret.
"Kami memiliki populasi yang sangat lemah yang akan dihadapkan pada operasi militer besar baru," katanya dalam pertemuan di Jenewa, melansir Reuters 21 Agustus.
"Banyak dari mereka tidak akan memiliki kekuatan untuk menjalani pengungsian baru," lanjutnya.
"Banyak dari mereka tidak akan selamat," tandasnya tentang anak-anak, berbicara kepada audiens dalam bahasa Prancis.
"Ini adalah kelaparan yang dibuat-buat dan disengaja. Makanan telah digunakan sebagai alat perang," katanya.
Pada Bulan Mei, pemantau kelaparan global mengatakan setengah juta orang di Jalur Gaza menghadapi kelaparan, tetapi tidak menggunakan istilah kelaparan.
Sementara itu, badan militer Israel yang mengoordinasikan bantuan, COGAT, sebelumnya mengatakan mereka menginvestasikan upaya besar untuk memastikan bantuan mencapai Gaza dan membantah membatasi pasokan.
BACA JUGA:
Terpisah, rumah sakit di Jalur Gaza mencatat dua kematian akibat kelaparan dan malnutrisi, sehingga total mereka yang tewas akibat hal ini sudah mencapai 271 orang, dengan 112 di antaranya anak-anak, dikutip dari WAFA.
Sumber medis di Gaza mencatat pada Hari Kamis, jumlah korban tewas di Jalur Gaza sejak agresi Israel Oktober 2023 telah bertambah menjadi 62.192 orang, sebagian besar di antaranya adalah anak-anak dan perempuan.
Sumber yang sama menambahkan, jumlah korban luka-luka telah meningkat menjadi 157.114 sejak dimulainya serangan Israel, sementara sejumlah korban masih tertimbun reruntuhan serta tidak dapat dijangkau oleh ambulans dan tim penyelamat.