JAKARTA - Juru bicara UNICEF Tess Ingram memperingatkan tentang meningkatnya risiko kelaparan di Kota Gaza, yang dapat menyebar ke Jalur Gaza bagian tengah dalam beberapa minggu mendatang, jika intervensi segera tidak dilakukan.
Berbicara dari Gaza, Ingram mengatakan ancaman kelaparan di Kota Gaza masih parah, dengan banyak keluarga kini tidak mampu menyediakan makanan bagi anak-anak mereka. Ia menggambarkan situasi keseluruhan di Jalur Gaza sebagai "bencana".
Ingram menekankan bahwa warga Palestina di Gaza, terutama di wilayah timur dan utara Kota Gaza, terus hidup di bawah ancaman pemboman Israel yang terus-menerus dan intensif.
Ia menjelaskan, banyak penduduk mengungsi dari penembakan ke arah barat menuju laut, di mana jumlah kamp dan tenda di sepanjang jalur pantai meningkat, dikutip dari WAFA 8 September.
Direktur rumah sakit telah melaporkan peningkatan jumlah anak-anak yang menderita patah tulang, luka bakar, dan cedera yang disebabkan oleh serangan Israel baru-baru ini, tambahnya.
Ingram mencatat, banyak penduduk Gaza mempertimbangkan untuk pindah ke bagian selatan Jalur Gaza, tetapi menyadari bahwa kondisi di sana sama buruknya, dengan kekurangan makanan, air minum, dan serangan udara yang terus-menerus.
"Tidak ada tempat yang aman di Gaza," tegasnya.
Ia memperingatkan, kelaparan dapat meluas ke Jalur Gaza bagian tengah dalam beberapa minggu kecuali tindakan segera diambil.
Lebih jauh dijelaskannya, petugas kesehatan, personel kemanusiaan, dan jurnalis telah memperingatkan tentang kelaparan di Gaza selama berbulan-bulan, namun "tidak ada yang berubah." Keluarga-keluarga hidup dalam keputusasaan, mengetahui bahwa yang terburuk belum datang, sementara "tidak ada cukup tekanan internasional untuk mengubah kenyataan ini."
Ingram juga melaporkan klinik-klinik yang didukung UNICEF kewalahan oleh orang tua yang mencari penilaian gizi untuk anak-anak mereka, banyak di antaranya sudah menerima perawatan.
BACA JUGA:
Ditekankannya, jika kondisi tidak membaik, lebih banyak anak di Gaza akan menghadapi risiko kelaparan.
Ia mengonfirmasi lebih dari 110 anak telah meninggal sejauh ini karena kekurangan gizi, hampir setengahnya baru tahun ini.
Menyebut kematian ini sebagai "buatan manusia" dan dapat dihindari, Ingram menekankan kebutuhan mendesak akan makanan, air dan obat-obatan.
Ia mengharapkan ratusan truk memasuki Gaza setiap hari untuk memenuhi kebutuhan dasar, "tetapi itu belum terjadi."