JAKARTA - Mantan pemimpin Myanmar yang ditahan rezim militer, Aung San Suu Kyi, menderita masalah jantung yang semakin parah dan membutuhkan perawatan medis segera, kata putranya, dalam permohonan agar ibunya segera dibebaskan dari tahanan yang "kejam dan mengancam jiwa".
Kim Aris mengatakan kepada Reuters, ibunya (80) yang ditahan militer sejak kudeta dan penggulingan pemerintahan pada tahun 2021, telah meminta untuk bertemu dengan ahli jantung sekitar sebulan yang lalu. Ia tidak dapat memastikan apakah permintaannya telah dikabulkan.
"Tanpa pemeriksaan medis yang tepat mustahil untuk mengetahui kondisi jantungnya," katanya melalui telepon dari London, melansir Reuters 8 September.
"Saya sangat khawatir. Tidak ada cara untuk memverifikasi apakah dia masih hidup," lanjutnya.
Peraih Nobel Perdamaian itu juga menderita masalah tulang dan gusi, kata Aris, seraya menambahkan kemungkinan besar ibunya terluka dalam gempa bumi pada bulan Maret yang menewaskan lebih dari 3.700 orang.
Dalam sebuah video Facebook, ia memohon agar Suu Kyi dan semua tahanan politik di Myanmar dibebaskan.
Sementara itu, juru bicara militer Zaw Min Tun mengatakan kepada media pemerintah pada Sabtu malam, laporan tentang kesehatannya dimaksudkan untuk mengalihkan perhatian dari kunjungan pemimpin militer Jenderal Senior Min Aung Hlaing ke Tiongkok untuk bertemu dengan Presiden Xi Jinping dan menghadiri parade militer.
"Kesehatan Daw Aung San Suu Kyi baik. Mereka mengarang informasi ini karena kami berada di Tiongkok dan pemimpin Myanmar kami melakukan begitu banyak aktivitas dan mereka ingin menyembunyikan berita ini," katanya di MRTV.
Myanmar telah dilanda kekerasan sejak pengambilalihan militer pada Februari 2021, yang memicu demonstrasi massa yang ditumpas dengan kekerasan brutal, memicu pemberontakan bersenjata yang meluas.
Suu Kyi, simbol lama gerakan pro-demokrasi Myanmar, menjalani hukuman 27 tahun penjara atas berbagai pelanggaran termasuk penghasutan, korupsi, dan kecurangan pemilu, yang semuanya ia bantah.
Salah satu penampilan publik terakhirnya adalah di pengadilan pada Mei 2021, beberapa bulan setelah kudeta, ketika gambar-gambar yang ditayangkan oleh televisi pemerintah menunjukkan dirinya duduk tegak di kursi terdakwa, dengan tangan di pangkuan dan mengenakan masker bedah.
Militer membenarkan pengambilalihan kekuasaannya atas dasar apa yang disebutnya sebagai kecurangan yang meluas dalam Pemilu yang dimenangkan telak oleh partai Suu Kyi, meskipun pemantau pemilu tidak menemukan bukti kecurangan.
Pemerintah asing dan kelompok hak asasi manusia secara konsisten menyerukan pembebasannya.
BACA JUGA:
Mulai akhir Desember, pemerintah sementara yang didukung militer berencana untuk mengadakan Pemilu baru dalam beberapa tahap, yang merupakan Pemilu pertama sejak pemilu yang memicu kudeta.
Namun, kelompok-kelompok anti-junta, termasuk partai Suu Kyi, memboikot atau dilarang mencalonkan diri, dengan hanya partai-partai yang didukung dan disetujui militer yang berpartisipasi.
Pemerintah Barat mengkritik rencana pemungutan suara tersebut sebagai langkah untuk memperkuat kekuasaan para jenderal.