JAKARTA - Riska (29), driver ojek online (ojol) yang diundang bertemu dengan Wapres Gibran Rakabuming Raka di Istana Wakil Presiden RI, Jakarta Pusat pada Minggu, 31 Agustus kemarin lusa, mengaku bahwa dirinya adalah mitra aplikator.
Ditemui VOI di kawasan Monas, Jakarta Pusat hari ini, Selasa, 2 September, Riska mengaku gusar dengan ucapan warganet di media sosial yang menyebutnya bukanlah pengemudi ojol.
Riska menjelaskan, hari itu ia sedang bekerja seperti biasa. Kemudian, pihak aplikator menghubunginya dan mengajak untuk bertemu dengan Wapres Gibran.
“Saat itu, saya posisi lagi onbid (menunggu orderan masuk) di daerah Roxy Mas, terus saya dihubungi sama orang Grab,” ungkap Riska bersemangat.
Dia melanjutkan, pengemudi ojol yang bertemu Wapres Gibran memang bukan dipilih sembarangan, melainkan mereka yang sudah lama bekerja sebagai pengemudi ojol dan punya performa baik dalam bekerja.
“Dan memang gak sembarangan diundang sih, karena memang saya juga dilihat dari tarikan saya, pendapatan saya, akun saya juga. Soalnya kan saya gabung Grab itu dari 2016,” tuturnya.
BACA JUGA:
Tanpa ragu, Riska pun menunjukkan akun miliknya kepada awak media. Ia memperlihatkan penghasilannya yang berkisar antara Rp3 juta hingga Rp4 juta setiap minggunya.
Dia juga menampik penilaian warganet yang mengatakan perawakannya tidak selayaknya seorang pengemudi ojol pada umumnya.
Meski pekerjaannya berada di luar ruangan, Riska merasa seorang pengemudi ojol juga wajib dan berhak menjaga penampilan.
“Kan kita ojol juga harus menjaga penampilan. Dan memang kan di sana juga mungkin karena lampunya, mereka (warganet) kan enggak tahu. Mungkin muka saya karena efek handphone atau gimana, makanya muka saya terlalu putih,” ujar Riska.
“Dan memang saya setiap harinya kalau habis onbid ya memang maskeran. Dan kalau setiap onbid itu, setiap harinya saya pakai sunscreen juga,” imbuhnya.
Di samping itu, Arif mengaku sudah menjadi pengemudi ojol sejak tahun 2018. Dalam pertemuannya dengan Wapres Gibran, ia menyebut para pengemudi ojol meminta agar kasus kematian Affan Kurniawan diselesaikan lewat proses hukum dengan seadil-adilnya.
Selain itu, mereka juga meminta kejelasan tentang status pengemudi ojol sebagai mitra kerja.
“Kita juga minta bahwa status kita, mitra itu, agar disahkan oleh negara. Biar enggak dipandang sebelah mata. Dan selama ini kan kekuatan hukum status mikra kita enggak ada. Jadi, kita dorong itu supaya negara mengakui status kemitraan kita,” pungkas Arif.