JAKARTA - Ketua Umum Asosiasi Pengemudi Ojek Online Garda Indonesia Raden Igun Wicaksono kembali bersuara soal identitas sekelompok ojol yang bertemu dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Belakangan, aplikator seperti Gojek dan Grab mengaku kelompok ojol tersebut terdaftar mitranya.
Igun mengaku pihaknya tak mendapatkan informasi lengkap apa bahasan yang tengah mereka bahas dalam pertemuan tersebut. Karenanya, isi pertemuan gibran dengan kelompok ojol tersebut tidak dapat diserap secara transparan oleh seluruh pengemudi.
"Bagi Garda tidak peduli apakah mereka pengemudi asli atau bukan. Jika pertemuan dengan Gibran adalah mewakili kepentingan korporat aplikator, maka pertemuan tersebut patut dipertanyakan kepada Gibran. Jelas-jelas rakyat ojol sedang dalam kesulitan ekonomi dan terpaksa harus beroperasi melebihi batas normal untuk bisa mendapatkan uang mencukupi yang bisa dibawa pulang ke rumah," kata Igun dalam keterangannya, Rabu, 3 September.
Yang pasti, Igun menegaskan pihak yang ada dalam pertemuan bukan dari asosiasi maupun kelompok yang selama ini sedang memperjuangkan hak dan keadilan bagi ojol seluruh Indonesia. Sehingga, Igun menyayangkan sikap Gibran dalam menyikapi persoalan ini.
"Apabila mereka adalah pengemudi asli punya akun ojol dan utusan dari perusahaan aplikasi atau mewakili korporat perusahaan aplikasi maka sangat disayangkan bahwa Gibran lebih memilih menampung kepentingan korporat aplikator dibandingkan rakyat Indonesia yang berprofesi sebagai ojol yang sedang berjuang atas hak dan keadilan," urai Igun.
Di satu sisi, Igun mempersilakan masyarakat untuk menilai apakah pertemuan antara Gibran dengan kelompok ojol yang mewakili kepentingan driver online atau korporat aplikator dan Gibran sendiri.
BACA JUGA:
Igun menegaskan, asosiasinya akan tetap fokus pada tuntutan utama yaitu potongan biaya aplikasi 10 persen yang kini belum terwujud karena tak menemui kesepakatan dengan aplikator.
"Garda mempertanyakan keberpihakan Gibran, apakah Wapres pro kepada rakyat atau pro kepada pebisnis atau korporat aplikator sehingga lebih memilih menyerap aspirasi korporat, aspirasi bisnis dibandingkan aspirasi rakyat Indonesia, ataukah memang pemerintahan dan kekuasaan sudah dikendalikan oleh kepentingan korporat aplikator ojol," imbuhnya.
Diketahui, identitas pengemudi ojek online yang hadir dalam pertemuan perwakilan ojol dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka di Istana Wapres, akhirnya terungkap.
Ditemui di kawasan Cipinang, Jakarta Timur, Rahman Thohir mengaku dirinya adalah satu dari delapan pengemudi ojol yang mendapat kesempatan untuk berdialog dengan wakil presiden. Di depan awak media, Rahman menjelaskan dia adalah seorang pengemudi ojol dari Gojek.
"Saya bergabung dengan Gojek dari tahun 2015, jadi saya memang driver asli. Saya mengenyam pendidikan dan sarjana hukum di Universitas 17 Agustus 1945," kata Rahman, kepada media, Rabu 3 September.
Selain itu, Rahman juga menilai ada ketidakadilan dalam narasi yang berkembang di media sosial saat ini. Menurutnya, jangan mendeskreditkan pengemudi ojol hanya karena memiliki kemampuan untuk berbicara dengan baik di depan publik.
"Narasi yang beredar sekarang seolah-olah kami tidak berhak menggunakan kata-kata yang sifatnya intelektual seperti eskalasi atau edukasi. Perlu diketahui pengemudi ojol ini tidak hanya terdiri dari orang-orang yang lulusan Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) atau Sekolah Menengah Atas (SMA), tapi ada banyak juga yang merupakan lulusan Strata 1 (S1) dan Strata 2 (S2)," ungkap Rachman.