Bagikan:

JAKARTA - Presiden AS Donald Trump berharap Presiden Rusia Vladimir Putin akan terus maju dalam mengakhiri perang di Ukraina.

Tapi Trump mengakui pemimpin Kremlin tersebut mungkin tidak ingin mencapai kesepakatan sama sekali yang justru akan menciptakan "situasi yang sulit" bagi Putin.

Dalam wawancara dalam program "Fox & Friends" di Fox News, Trump memperkirakan arah tindakan Putin akan menjadi jelas dalam beberapa minggu mendatang.

Trump juga kembali mengesampingkan kemungkinan pasukan Amerika di Ukraina dan tidak memberikan rincian spesifik tentang jaminan keamanan yang sebelumnya ia katakan dapat ditawarkan Washington kepada Kyiv dalam penyelesaian pascaperang apa pun.

"Sejujurnya, saya rasa itu tidak akan menjadi masalah (mencapai kesepakatan damai). Saya pikir Putin sudah bosan. Saya pikir mereka semua sudah bosan, tapi kita tidak pernah tahu," kata Trump dilansir Reuters, Selasa, 19 Agusts.

"Kita akan tahu tentang Presiden Putin dalam beberapa minggu ke depan. Ada kemungkinan dia tidak ingin mencapai kesepakatan," kata Trump, yang sebelumnya mengancam akan memberikan sanksi lebih berat kepada Rusia dan negara-negara pembeli minyaknya jika Putin tidak berdamai.

Ukraina dan sekutu-sekutunya di Eropa optimistis dengan janji Trump tentang jaminan keamanan untuk membantu mengakhiri perang dalam pertemuan puncak luar biasa pada Senin, tetapi masih menghadapi banyak pertanyaan yang belum terjawab, termasuk seberapa besar kesediaan Rusia untuk bekerja sama.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy memuji perundingan  di Gedung Putih dengan presiden AS sebagai "langkah maju yang besar" untuk mengakhiri konflik paling mematikan di Eropa dalam 80 tahun termasuk untuk mempersiapkan pertemuan trilateral dengan Putin dan Trump dalam beberapa minggu mendatang.

Zelenskyyy didampingi oleh para pemimpin sekutu, termasuk Jerman, Prancis, dan Inggris, di pertemuan puncak tersebut.

Namun di balik semua yang terlihat, jalan menuju perdamaian masih sangat tidak pasti dan Zelenskyy mungkin terpaksa membuat kompromi yang menyakitkan untuk mengakhiri perang, yang dimulai dengan invasi besar-besaran Rusia pada Februari 2022.

Para analis mengatakan lebih dari 1 juta orang telah tewas atau terluka dalam konflik tersebut.

Meskipun perundingan di Washington memberikan sedikit rasa lega di Kyiv, pertempuran tidak mereda.

Rusia meluncurkan 270 pesawat nirawak (drone) dan 10 rudal dalam serangan semalam di Ukraina, menurut Angkatan Udara Ukraina, yang merupakan serangan terbesar bulan ini. Kementerian Energi mengatakan Rusia menargetkan fasilitas energi di wilayah Poltava tengah, lokasi satu-satunya kilang minyak Ukraina, yang menyebabkan kebakaran besar.

"Kabar baiknya adalah tidak ada ledakan (di Gedung Putih). Trump tidak menuntut kapitulasi Ukraina atau menghentikan dukungan. Suasananya positif dan aliansi trans-Atlantik tetap hidup," ujar John Foreman, mantan atase pertahanan Inggris untuk Kyiv dan Moskow, kepada Reuters.

"Di sisi negatifnya, terdapat banyak ketidakpastian tentang sifat jaminan keamanan dan apa sebenarnya yang dimaksud AS,” kata dia.

Sekutu-sekutu Ukraina akan mengadakan pembicaraan koalisi Eropa pada Selasa untuk membahas langkah selanjutnya.