Bagikan:

JAKARTA - Pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin berakhir antiklimaks. Tak ada kesepakatan gencatan senjata perang Rusia-Ukraina yang selama ini digadang-gadang Trump sebelum puncak pertemuan di Alaska.

Presiden AS Donald Trump mengatakan pembicaraan langsung selama hampir tiga jam dengan Presiden Rusia Vladimir Putin  tidak menghasilkan kesepakatan untuk menghentikan perang Moskow di Ukraina.

Tapi Trump menggambarkan pertemuan tersebut sebagai "sangat produktif."

Dalam sambutan singkat kepada wartawan, kedua pemimpin mengatakan mereka telah membuat kemajuan dalam isu-isu yang tidak disebutkan, tetapi mereka tidak memberikan detail dan tidak menjawab pertanyaan.

"Ada banyak sekali poin yang kami sepakati. Saya rasa ada beberapa poin penting yang belum sepenuhnya kami capai, tetapi kami telah membuat beberapa kemajuan," kata Trump, berdiri dengan backdrop, "Mengejar Perdamaian."

"Tidak akan ada kesepakatan sampai ada kesepakatan," kata Trump dilansir Reuters, Sabtu, 16 Agustus.

Belum jelas apakah perundingan tersebut telah menghasilkan langkah-langkah yang berarti menuju gencatan senjata dalam konflik paling mematikan di Eropa dalam 80 tahun.

Dalam sambutan singkatnya, Putin berharap Ukraina dan sekutu-sekutunya di Eropa menerima hasil negosiasi AS-Rusia secara konstruktif dan tidak mencoba "mengganggu kemajuan yang telah dicapai."

"Saya berharap kesepakatan hari ini akan menjadi titik acuan, tidak hanya untuk menyelesaikan masalah Ukraina, tetapi juga akan memulai pemulihan hubungan bisnis yang pragmatis antara Rusia dan Amerika Serikat," kata Putin.

Akhir antiklimaks dari pertemuan puncak yang diawasi ketat ini sangat kontras dengan kemegahan dan suasana awalnya.

Ketika Putin tiba di pangkalan Angkatan Udara di Alaska, karpet merah telah menantinya. Trump menyambut Putin dengan hangat sementara jet militer AS terbang di atasnya.

Bagi Putin, pertemuan puncak tersebut merupakan kemenangan besar, terlepas dari hasilnya.

Ia dapat menggambarkan pertemuan tersebut sebagai bukti upaya Barat selama bertahun-tahun untuk mengisolasi Rusia telah gagal dan Moskow kembali mendapatkan tempatnya yang semestinya di meja tinggi diplomasi internasional.