GARUT - Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menegaskan pentingnya melestarikan kekayaan sejarah dan kearifan lokal saat mengunjungi Situs Cangkuang di Garut, Jawa Barat, Kamis, 7 Agustus. Kawasan ini memadukan harmoni budaya Hindu dan Islam yang hidup berdampingan sejak berabad lalu.
Fadli menyeberangi Danau Cangkuang dengan rakit tradisional menuju Kampung Pulo. Ia disambut kesenian Rudat dan tradisi siraman tujuh kendi dari tujuh mata air, simbol penyucian sebelum memasuki permukiman adat. Kampung ini dihuni keturunan Arif Muhammad, tokoh penyebar Islam abad ke-17 yang makamnya menjadi titik ziarah penting.
Ketua Masyarakat Adat Kampung Pulo, Zaki Munawar, menjelaskan aturan adat menjaga jumlah rumah tetap tujuh unit sebagai bentuk penghormatan pada warisan leluhur. Fadli juga mencicipi burayot, jajanan khas Garut yang masuk Warisan Budaya Takbenda.
Di Candi Cangkuang, peninggalan Hindu dengan patung Dewa Siwa, Fadli menilai situs ini bukti toleransi yang terjaga. “Keberagaman di sini adalah contoh nyata harmoni,” ujarnya. Ia mendorong peningkatan status cagar budaya Candi Cangkuang dari tingkat kabupaten ke nasional.
BACA JUGA:
Fadli meninjau museum yang menyimpan manuskrip Arab, data arkeologi, dokumentasi pemugaran, dan pembuatan daluang—kertas tradisional dari kulit pohon saeh. Ia mengajak generasi muda mempelajari sejarah situs ini, sosok Arif Muhammad, dan tradisi seperti siraman.
“Kita harus merawat situs ini agar tetap hidup dan menjadi destinasi wisata budaya,” tegasnya. Fadli menutup kunjungan dengan apresiasi kepada juru pelihara dan janji membantu penataan koleksi museum.
Situs Cangkuang menjadi bukti bahwa pelestarian budaya bukan sekadar menjaga masa lalu, tetapi menanam akar kuat bagi masa depan yang berlandaskan kearifan lokal.