KLATEN - Menteri Kebudayaan Fadli Zon menegaskan bahwa Candi Plaosan Lor adalah simbol harmoni dan peradaban besar Nusantara yang lahir dari dialog dan toleransi. Ia menyampaikan hal itu saat meresmikan purna pugar Candi Perwara Deret II No. 19 di kawasan Plaosan Lor, Klaten, Jawa Tengah, Kamis, 23 Oktober.
“Candi Plaosan bukan sekadar peninggalan arkeologi, tapi perwujudan kebijaksanaan leluhur yang mengajarkan kita tentang keberagaman. Di tempat ini Hindu dan Buddha tidak saling meniadakan, tapi saling menguatkan,” ujar Fadli. Menurutnya, Plaosan menjadi bukti bahwa peradaban Indonesia lahir dari sinergi, bukan pertentangan.
Fadli menegaskan, pemugaran ini bukan hanya kerja teknis, tetapi pelaksanaan amanat Pasal 32 UUD 1945 tentang kewajiban negara memajukan kebudayaan nasional. Ia menggambarkan Plaosan sebagai “lanskap budaya yang utuh”, di mana manusia, alam, dan spiritualitas hidup dalam keseimbangan. “Leluhur kita sudah lebih dulu memahami keberlanjutan sebelum dunia mengenalnya,” katanya.
Sejak masa pemerintahan Hindia Belanda pada 1940 hingga pasca kemerdekaan Indonesia, berbagai upaya telah dilakukan untuk memulihkan dan menjaga kelestarian Situs Candi Plaosan. Pemerintah melalui Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X secara konsisten melanjutkan kegiatan pemugaran dengan berpegang pada prinsip-prinsip pelestarian, seperti keaslian bahan, bentuk, tata letak, serta teknik pengerjaan.
BACA JUGA:
Pemugaran Candi Perwara Deret II No. 19 dilakukan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X selama 11 bulan, melibatkan 32 tenaga ahli dan pekerja lokal. Kegiatan ini sekaligus menjadi purna pugar ke-27 di kawasan Plaosan Lor. Dirjen Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan, menjelaskan bahwa proyek ini tak hanya melestarikan bangunan, tapi juga memberdayakan masyarakat sekitar agar ikut menjaga situs bersejarah itu.
Ke depan, pengembangan Plaosan akan dimulai dari penataan akses masuk dan area parkir untuk menghadirkan pengalaman budaya yang lebih mendalam. “Penataan ini bukan sekadar fisik, tapi upaya memulihkan pengalaman batin pengunjung agar memahami cara hidup yang melahirkan Plaosan,” jelas Fadli.