Bagikan:

JAKARTA - Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) Muhammadiyah dari seluruh Indonesia bekerja sama dengan Lembaga Sensor Film Republik Indonesia (LSF RI) dan Kementerian Kebudayaan RI menggelar kegiatan Nonton Bareng (Nobar) film nasional “Assalamualaikum Beijing 2: Lost in Ningxia” di Bioskop XXI The Park Sawangan, Depok.

Kegiatan ini merupakan bagian dari Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri (GNBSM) yang mengusung tema “Memajukan Budaya, Menonton Sesuai Usia”, sebagai upaya edukatif dalam meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya menonton film yang sesuai klasifikasi usia.

Foto bersama sebelum Nonton Bareng (Nobar) film nasional “Assalamualaikum Beijing 2: Lost in Ningxia” di Bioskop XXI The Park Sawangan, Depok. (IST)
Foto bersama sebelum Nonton Bareng (Nobar) film nasional “Assalamualaikum Beijing 2: Lost in Ningxia” di Bioskop XXI The Park Sawangan, Depok. (IST)

Pentingnya Sensor Mandiri di Era Digital

Perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat telah mengubah cara masyarakat mengakses film—tak hanya melalui bioskop dan televisi, tetapi juga lewat platform digital dan media streaming. Kemudahan ini membawa tantangan baru, yakni meningkatnya risiko paparan terhadap konten yang tidak sesuai usia.

Ketua LSF RI, Dr. Naswardi, MM., ME., dalam sambutannya menyampaikan bahwa banyak film berbasis internet yang tidak melalui proses sensor resmi. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan dapat lebih cerdas dalam memilah dan memilih tontonan, terutama untuk anak-anak. “Jagalah anak dari unsur kekerasan, pornografi, narkoba, dan hal sensitif lainnya,” tegasnya.

Apresiasi Karya Anak Bangsa dan Perlindungan Anak

Direktur Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan RI, Dr. Syaifullah Agam, menegaskan pentingnya menghargai karya film lokal. “Film Indonesia sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Dengan budaya menonton, kita bisa menghargai karya anak bangsa dan mencegah pembajakan,” ujarnya.

Sementara itu, Ketua MPKS Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Dr. Mariman Darto, SE., M.Si., mengapresiasi kesempatan nonton bareng ini bersama anak-anak yatim piatu. Ia juga berharap kegiatan ini menjadi sarana literasi budaya dan kreatif bagi generasi muda, terutama melalui karya-karya inspiratif seperti novel dan film Asma Nadia.

Sosialisasi Tugas LSF dan Edukasi Publik

Kegiatan ini juga diisi dengan sesi edukatif bersama Noorca M. Massardi (Wakil Ketua LSF RI) dan Titin Setiawati, S.IP., M.Ikom. (Ketua Subkomisi Sosialisasi LSF), yang menjelaskan peran dan tugas LSF dalam menyaring serta mengklasifikasikan film sesuai usia.

Dalam sesi simulasi, peserta diajak memahami proses penentuan klasifikasi usia pada film dan iklan. Edukasi ini penting untuk menumbuhkan budaya sensor mandiri yang kuat di masyarakat, sehingga publik menjadi lebih bijak dalam memilih konten audiovisual.

Acara semakin meriah dengan kehadiran Yasmin Napper dan Emir Mahira, pemeran utama film, serta penulis novel Asma Nadia yang karyanya diadaptasi menjadi film. Kehadiran mereka menambah antusiasme lebih dari 400 peserta yang hadir, termasuk para pekerja sosial dari lingkungan Muhammadiyah.

LSF RI berharap kegiatan ini dapat menjadi langkah nyata dalam membentuk masyarakat yang kritis, bijak, dan bertanggung jawab dalam menyikapi konten film. Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri bukan hanya tanggung jawab pemerintah, melainkan gerakan kolektif demi terciptanya ruang tontonan yang sehat dan berkualitas untuk semua.