JAKARTA - Menteri Luar Negeri RI Sugiono menilai tindakan menteri sayap kanan Israel yang memimpin ibadah terbuka untuk pertama kalinya di Temple Mount, Kompleks Masjid Al-Aqsa sebagai pelanggaran status quo dan memprovokasi.
Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben-Gvir untuk pertama kalinya memimpin ibadah secara terbuka bersama pemukim Yahudi di Kompleks Masjid Al-Aqsa pada Hari Minggu.
"Kita melihatnya sebagai pelanggaran status quo. Ini membuat situasi lebih rumit," ujar Menlu RI usai menerima kunjungan Menlu Belarusia Maxim Ryzhenkov di Kementerian Luar Negeri RI, Selasa 5 Agustus.
"Yang kita harapkan penghormatan terhadap kesepakatan, tradisi yang ada, tidak melakukan hal-hal yang sifatnya memprovokasi kemarahan lebih besar," tandasnya.
Sementara itu, Perdana Menteri Benjamin Netanyahu mengeluarkan pernyataan menanggapi ulah Ben-Gvir pada akhir pekan dengan menegaskan, "kebijakan Israel untuk mempertahankan status quo di Temple Mount tidak berubah dan tidak akan berubah," dikutip dari The Times of Israel.
Diketahui, Temple Mount di Kota Tua Yerusalem adalah tempat tersuci dalam agama Yahudi, sebagai lokasi dari dua kuil di dalam Alkitab. Sementara oleh umat Islam, ini dikenal sebagai Haram al-Sharif atau Tempat Suci yang Mulia, tempat ini adalah rumah bagi Masjid Al-Aqsa, situs tersuci ketiga dalam Islam.
Berdasarkan perjanjian tahun 1967, non-Muslim, termasuk Yahudi tidak diizinkan memasuki Masjid Al-Aqsa untuk melakukan ritual apapun. Di bawah pengaturan "status quo" yang telah berlangsung selama puluhan tahun dengan pihak berwenang Muslim, Israel mengizinkan orang Yahudi untuk berkunjung tetapi tidak boleh berdoa.
Yordania telah menjadi penjaga resmi tempat-tempat suci Muslim dan Kristen di Yerusalem sejak 1924, dan secara terbuka diakui sebagai penjaga tempat-tempat suci Yerusalem.
Situs ini berada di jantung konflik Israel-Palestina, dan saran agar Israel mengubah aturan tentang ketaatan beragama di sana telah menyebabkan kekerasan di masa lalu.
BACA JUGA:
Ben-Gvir, yang telah berulang kali mengabaikan larangan orang Yahudi berdoa di situs tersebut, tahun lalu mengutarakan keinginannya membangun sinagoga di Kompleks Al-Aqsa.
Usai pernyataan Ben Gvir, Kantor Perdana Menteri Benjamin Netanyahu segera mengeluarkan pernyataan yang menegaskan kembali posisi resmi Israel, yang menerima aturan lama yang membatasi doa non-Muslim di kompleks masjid, yang dikenal sebagai Temple Mount bagi orang Yahudi, yang menghormatinya sebagai situs dua kuil kuno.