YOGYAKARTA - Beberapa waktu lalu, warganet dibuat heboh oleh sebuah fenomena induk kelabang yang mengorbankan diri untuk anak-anaknya yang baru saja dilahirkan. Sebuah video yang diunggah oleh akun Instagram @viralyout*** pada Selasa (17/6/2025), memperlihatkan seekor induk kelabang yang disantap anaknya sendiri hingga tak tersisa. Dari fenomena ini, warganet mengenal matrifagi.
"Ibu kelabang tawarkan diri jadi makanan pertama bagi anak-anaknya, perilaku ini disebut matrifagi," demikian penjelasan dalam keterangan video tersebut.
Unggahan tersebut mengundang banyak komentar warganet yang merasa penasaran dengan perilaku matrifagi hewan. Sebagian juga merasa iba kepada induk kelabang tersebut.
"Ud hamil, ngelahirim, pas ud lahir malah dimakan anak sendiri," cuit @aaaila***.
"Dia lebih memilih jadi makanan daripada babyblues," tulis akun @cook.adood***.
Apa itu perilaku matrifagi? Simak ulasan selengkapnya di bawah ini.
Mengenal Matrifagi
Ahli hewan dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Slamet Raharjo, mengungkapkan bahwa asal-usul istilah matrifagi atau matriphagy berasal dari bahasa Latin yaitu "matri" atau "mater" yang memiliki arti ibu, adapun "phagy" atau "phaga" berarti makan.
Secara harfiah, jelas Slamet, matriphagy berarti “memakan induk”.
"Dalam dunia hewan, perilaku ini terjadi ketika induk secara sengaja mengorbankan dirinya untuk dimakan oleh anak-anaknya, biasanya saat periode makan pertama setelah menetas," ungkapnya.
Ia menjelaskan, perilaku ekstrem ini dianggap sebagai bentuk pengorbanan evolusioner yang bertujuan untuk memenuhi asupan nutrisi yang cukup bagi anak-anak kelabang di awal kehidupan mereka. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan peluang bertahan hidup spesies tersebut. Slamet juga menambahkan, fenomena matrifagi tidak hanya dialami oleh kelabang saja.
"Perilaku semacam ini juga banyak ditemukan pada kelompok serangga karnivora lain seperti kalajengking, pseudoscorpion, laba-laba, dan sejenisnya," tuturnya.
Matrifagi Menjadi Cara untuk Menjamin Kelangsungan Spesies
Dilansir dari National Geographic, fenomena matrifagi atau perilaku anak yang memangsa induknya mungkin terdengar ekstrem dan langka, namun ternyata sudah tercatat di berbagai kelompok hewan.
Jo-Anne Sewlal dari Zoological Society of London menjelaskan bahwa perilaku ini sudah teramati pada beberapa spesies cacing nematoda, serangga, dan beberapa jenis arakhnida.
"Meskipun secara naluriah terdengar mustahil bagi anak untuk memakan ibunya, matriphagy justru merupakan strategi evolusioner yang sangat efisien untuk menjamin kelangsungan hidup spesies," ujar Sewlal.
Dalam dunia hewan, pengorbanan sang induk tidak hanya sekadar tragedi, tetapi bagian dari siklus hidup yang memang terprogram secara alami. Salah satu contoh dramatis bisa kita lihat dari Stegodyphus dumicola, laba-laba sosial yang hidup di Afrika Selatan.
Spesies ini tinggal dalam koloni besar yang berbagi sarang dan tanggung jawab pengasuhan.
Namun, hanya ada sekitar 40 persen betina yang berhasil melakukan reproduksi karena laju pertumbuhan mereka lebih lambat dari jantan. Adapun betina yang tidak berkembang biak, dikenal dengan istilah betina perawan, tetap mempunyai peran penting.
Mereka ikut merawat anak-anak dari saudara betina mereka. Ketika telur menetas, baik induk ataupun betina perawan mulai memproduksi cairan nutrisi tinggi yang mereka berikan kepada anak-anak melalui mulut. Namun, proses ini berjalan dengan konsekuensi.
“Produksi cairan ini begitu melelahkan hingga tubuh betina perlahan mulai mengalami degradasi,” jelas Anja Junghanns, ahli biologi evolusi dari Universitas Greifswald, Jerman, yang menjadi salah satu penulis studi tentang laba-laba ini.
BACA JUGA:
Ketika sang induk hampir kehabisan seluruh cadangan energinya, secara naluriah anak-anaknya akan naik ke tubuhnya dan mulai memakannya hidup-hidup. Sebuah pengorbanan mutlak untuk membuat generasi selanjutnya bertahan, meski harus ditebus dengan harga yang sangat mahal.
Demikianlah ulasan artikel dalam mengenal matrifagi. Semoga informasi ini bermanfaat! Kunjungi VOI.id untuk mendapatkan informasi menarik lainnya.