JAKARTA - Guru Besar Keamanan Pangan Institut Pertanian Bogor (IPB), Ahmad Sulaeman, menegaskan bahwa pangan hasil rekayasa genetika (GMO) seperti kedelai olahan untuk tempe memiliki keunggulan dalam ketahanan terhadap tantangan pangan dan tetap aman dikonsumsi.
"Bibit hasil rekayasa genetika memang dirancang untuk memiliki keunggulan dibanding bibit konvensional, karena produksi pangan kalah cepat dibanding pertumbuhan penduduk, terlebih dengan perubahan iklim dan serangan hama," kata Ahmad dalam keterangannya, dikutip dari Antara, Selasa, 15 Juli.
Mengutip data Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Ahmad menjelaskan bahwa GMO merupakan organisme yang materi genetiknya telah dimodifikasi dengan teknik modern untuk meningkatkan hasil panen, ketahanan terhadap hama, dan efisiensi produksi.
Menurutnya, pangan berbasis GMO justru lebih hemat pestisida dan herbisida, sehingga lebih efisien secara ekonomi dan ramah lingkungan.
Meski demikian, Ahmad mengakui masih banyak kekhawatiran di masyarakat terkait kemungkinan efek samping kesehatan dari pangan GMO, termasuk isu yang menyebutkan tempe GMO dapat menyebabkan kanker.
"Belum ada bukti klinis atau ilmiah yang kuat bahwa produk rekayasa genetika menyebabkan kanker," ujarnya. Ia menambahkan bahwa masyarakat Indonesia sudah mengonsumsi produk berbasis GMO seperti roti, mie instan, dan tahu tempe selama puluhan tahun.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sendiri menyatakan bahwa pangan GMO yang beredar di pasar internasional telah melalui evaluasi keamanan dan dinyatakan tidak berisiko bagi kesehatan manusia.
Ahmad, yang juga Ketua Umum Perhimpunan Pakar Gizi dan Pangan Indonesia (PERGIZI PANGAN), menegaskan pentingnya edukasi yang tepat mengenai pangan berbasis kedelai agar masyarakat tidak terjebak informasi menyesatkan.
"Jangan sampai masyarakat kita disuguhi informasi keliru. Ada lebih dari 150 ribu perajin tempe yang bisa terdampak oleh informasi yang salah," ucapnya.
Senada, Ketua Forum Tempe Indonesia (FTI) Hardinsyah menyebut pemanfaatan kedelai GMO juga harus diimbangi dengan peningkatan produksi kedelai lokal.
BACA JUGA:
Menurut data BPS, impor kedelai Indonesia tahun 2024 mencapai 2,67 juta ton atau naik 17,68 persen, sedangkan produksi dalam negeri hanya 558.600 ton dan terus menurun.
Pemanfaatan kedelai lokal dan GMO diharapkan dapat menunjang program prioritas pemerintah seperti makan bergizi gratis (MBG), terutama dalam pemenuhan asupan protein sebesar 30 persen dari kebutuhan harian.