YOGYAKARTA - Sound horeg bukan sekadar suara bising, melainkan sebuah fenomena audio yang telah mengakar kuat dalam budaya pesta dan hajatan di Indonesia. Dari panggung-panggung perhelatan desa hingga acara skala besar, bagaimana sejarah sound horeg ini bermula?
Artikel ini akan membawa Anda menelusuri awal mula Sound Horeg, mengungkap asal-usul kemunculannya, dan menyoroti perkembangannya yang dinamis di tanah air. Siap untuk menyelami kisah di balik gegap gempita sound horeg?
Sejarah Sound Horeg
Jauh sebelum hiruk-pikuk sound horeg hari ini, sekitar era 2000-an, masyarakat Indonesia telah akrab dengan penggunaan pengeras suara atau sound system sebagai pelengkap hiburan di acara pernikahan sederhana.
Dilansir dari Wikipedia, titik balik sound horeg modern dimulai pada 2014 di Malang, Jawa Timur. Di sanalah, yang dulunya sekadar sistem pengeras suara, bertransformasi menjadi sebuah parade perayaan yang memadukan elemen tradisional dengan sentuhan kekinian.
Fenomena sound horeg semakin meroket pasca-pandemi Covid-19 di tahun 2020. Kala itu, seakan menjawab kerinduan masyarakat akan hiburan di luar rumah, sound horeg meledak sebagai respons atas dahaga akan keramaian.
Tak butuh waktu lama bagi sound horeg untuk menancapkan kukunya. Dari Malang, geliatnya menyebar ke berbagai wilayah lain di Jawa Timur dan Jawa Tengah. Nama-nama seperti Pati, Blitar, Jember, Kudus, Demak, dan Rembang kini akrab dengan gemuruh sound horeg dalam setiap perayaan.
Khususnya Malang, Jawa Timur, memang pantas disebut sebagai tanah kelahiran fenomena ini. Komunitas-komunitas seperti Faskho Sengox dan BJ Hunter di Blitar dikenal sebagai pionir awal.
Geliat sound horeg kemudian membuka jalan bagi munculnya nama besar seperti Brewog Audio yang kini menjadi ikon sound horeg di wilayah Malang.
Tak hanya di hajatan, sound horeg kini menjadi magnet utama di berbagai karnaval dan festival desa di Jawa Timur, dengan ciri khas utama suara bas super kuat dan panggung berjalan yang menggunakan kendaraan-kendaraan besar.
Baca juga artikel yang membahas Sejarah PT Produksi Film Negara dari Masa Kolonial Belanda
Sound Horeg: Kreativitas atau Kebisingan?
Popularitas sound horeg memang tak terbantahkan, mampu menyedot perhatian dan menghidupkan suasana. Di satu sisi, fenomena ini melahirkan kreativitas tinggi di kalangan pelaku seni audio, menciptakan inovasi dalam teknologi suara dan desain panggung bergerak.
Namun, di sisi lain, sound horeg juga memicu kontroversi. Tingkat desibel suara yang sangat tinggi seringkali menjadi sumber keluhan masyarakat karena menimbulkan polusi suara.
Dampak kebisingan ini berpotensi mengganggu ketenangan, kenyamanan, bahkan kesehatan, terutama bagi lansia, anak-anak, atau mereka yang memiliki sensitivitas terhadap suara keras. Penolakan terhadap sound horeg sering muncul karena lokasi acaranya yang berdekatan dengan permukiman atau berlangsung hingga larut malam.
Fenomena sound horeg yang kian meramaikan berbagai acara di Indonesia kini menjadi sorotan Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). Dilansir dari laman resminya, Direktur Hak Cipta dan Desain Industri, Agung Damarsasongko, mengimbau masyarakat untuk mencermati fenomena ini lebih dalam.
Agung menegaskan jika pemisahan ini krusial karena sound horeg tak hanya sekadar bising, melainkan mengandung beragam objek Kekayaan Intelektual (KI) yang layak dilindungi.
BACA JUGA:
Menurut Agung, teknologi di balik suara berdesibel tinggi yang dihasilkan sound horeg berpotensi dilindungi paten. Sementara itu, bentuk kreasi sound horeg yang beraneka ragam dan memiliki kebaruan dapat dilindungi sebagai desain industri.
Selain sejarah sound horeg, ikuti artikel-artikel menarik lainnya juga ya. Ingin tahu informasi menarik lainnya? Jangan ketinggalan, pantau terus kabar terupdate dari VOI dan follow semua akun sosial medianya!