JAKARTA - Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio bertemu dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov di sela-sela pertemuan para menteri luar negeri ASEAN di Malaysia pada Kamis, di tengah meningkatnya serangan Rusia terhadap Ukraina.
Ini adalah pertemuan tatap muka kedua mereka, di saat Presiden AS Donald Trump semakin frustrasi dengan Presiden Rusia Vladimir Putin seiring berlanjutnya perang di Ukraina. Apa pesan yang dibawa Rubio dari Presiden AS Donald Trump?
Drone dan rudal Rusia menyerang ibu kota Ukraina pada Kamis pagi, seiring meningkatnya serangan Rusia yang telah membebani pertahanan udara Ukraina, memaksa ribuan orang berlindung di tempat perlindungan bom semalaman.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy mengatakan Rusia meluncurkan 18 rudal dan sekitar 400 drone dalam serangan yang terutama menargetkan ibu kota Kyiv.
Dilansir Reuters, Kamis, 10 Juli, tidak ada pernyataan dari Moskow, yang pada malam sebelumnya meluncurkan rekor 728 drone ke negara tetangganya yang lebih kecil.
Trump kembali berkuasa tahun ini dengan menjanjikan akhir yang cepat dari perang, yang dimulai pada tahun 2022.
Trump bersikap lebih lunak terhadap Moskow daripada pendahulunya Joe Biden, yang mendukung Kyiv dengan gigih.
Namun pada Selasa, sehari setelah memerintahkan dimulainya kembali pengiriman senjata pertahanan AS ke Ukraina, Trump bersikap sangat kritis, dengan mengatakan pernyataan Putin tentang langkah menuju perdamaian "tidak berarti".
BACA JUGA:
Trump juga mengatakan sedang mempertimbangkan untuk mendukung RUU yang akan menjatuhkan sanksi berat terhadap Rusia, termasuk tarif 500% bagi negara-negara yang membeli minyak, gas, uranium, atau ekspor lainnya dari Rusia.
Rubio bertemu dengan Lavrov di Kuala Lumpur pada Kamis malam, setelah sebelumnya bertemu dengan 10 anggota Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara dalam kunjungan pertamanya ke Asia sejak menjabat.
Rubio dan Lavrov pertama kali bertemu di Arab Saudi pada bulan Februari sebagai bagian dari upaya Trump untuk memulihkan hubungan dan membantu negosiasi untuk mengakhiri perang.
Keduanya juga berbicara melalui telepon pada Mei dan Juni.
Kremlin mengatakan pada Rabu, pihaknya bersikap santai terhadap kritik Trump dan akan terus berusaha memperbaiki hubungan yang "rusak" dengan Washington.