JAKARTA - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mendadak meluapkan kegundahan hatinya atas ancaman terhadap nyawanya.
Trump berbicara soal ancaman saat menyambut putusan pengadilan yang memberikan kekuasaan besar kepada pemerintahannya untuk menjalankan agenda kebijakannya.
Ketika ditanya oleh seorang reporter tentang ancaman tersebut, politikus Republik itu mengatakan dia terkadang teringat saat tertembak di telinganya dalam rapat umum kampanye di Pennsylvania pada tanggal 13 Juli 2024.
"Saya merasakan sensasi berdenyut itu sesekali," kata Trump. "Tapi tahukah Anda? Tidak apa-apa. Ini urusan yang berbahaya," imbuhnya dilansir Reuters, Sabtu, 28 Juni.
Trump menyinggung urusan nyawa selama konferensi pers dadakan di Gedung Putih yang dijadwalkan terkait keputusan Mahkamah Agung AS.
Putusan MA memberinya kemenangan besar dengan mengekang kewenangan hakim federal untuk memberlakukan putusan nasional yang menghalangi kebijakannya.
Pada Jumat, 28 Juni, pengusaha yang beralih menjadi politisi itu menggambarkan jabatan presiden sebagai jabatan yang lebih berisiko daripada beberapa profesi yang paling berbahaya.
"Misalnya, pembalap mobil, 1/10 dari 1% meninggal. Penunggang banteng, 1/10 dari 1%. Itu tidak banyak, tetapi - orang-orang meninggal. Ketika Anda menjadi presiden, itu sekitar 5%. Jika seseorang mengatakan itu kepada saya, mungkin saya tidak akan mencalonkan diri. Oke? Ini, ini adalah profesi yang sangat berbahaya,” kata Trump mengkalkulasi.
BACA JUGA:
Empat dari 45 presiden AS telah dibunuh. Beberapa presiden dan kandidat lainnya telah ditembak.
Ada beberapa ancaman terhadap nyawa Trump.
Pejabat penegak hukum mengatakan Trump juga selamat dari upaya pembunuhan pada 15 September 2024 saat ia bermain golf di lapangan golfnya di West Palm Beach, Florida.
Tersangka dalam insiden itu menghadapi lima dakwaan federal dan telah mengaku tidak bersalah.
Tersangka penembakan pada bulan Juli 2024 ditembak mati oleh agen Secret Service. Satu orang di pawai Pennsylvania tewas; dua lainnya terluka.
Amerika Serikat juga secara terpisah mengatakan Korps Garda Revolusi Islam elite Iran pada satu titik berusaha membunuh Trump. Iran, yang fasilitas nuklirnya dibom oleh pasukan AS akhir pekan lalu, telah membantah tuduhan tersebut.
Trum, yang menjalani masa jabatan keduanya, mendorong visi kekuasaan presiden yang luas, menyerang musuh-musuh politiknya dengan tajam, dan bersumpah untuk membalas dendam terhadap mereka.