Bagikan:

JAKARTA - Panglima tertinggi Angkatan Darat Iran Mayor Jenderal Amir Hatami mengatakan akan ada "respons keras" terhadap serangan Amerika Serikat terhadap fasilitas nuklir Iran.

"Sepanjang sejarah kita, kita telah menghadapi Amerika berkali-kali. Setiap kali mereka mencoba menyerang kita, mereka selalu mendapat balasan keras," kata Amir Hatami dalam rekaman video dilansir CNN, Senin, 23 Juni.

"Kita akan berjuang, kita akan berjuang demi kebahagiaan. Kita telah kehilangan banyak martir, tetapi kita akan berjuang dengan kekuatan dan keberanian. Anda harus yakin akan kekuatan kita," katanya.

Hatami, salah satu jenderal paling senior di Iran, diangkat untuk jabatan tersebut kurang dari seminggu yang lalu, saat Iran merombak kepemimpinan militernya untuk mengisi posisi yang kosong setelah Israel menewaskan beberapa tokoh senior dalam serangannya baru-baru ini.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi sebelumnya mengatakan Amerika Serikat harus bertanggung jawab penuh atas konsekuensi serangan terhadap fasilitas nuklirnya.

Presiden Donald Trump menyatakan AS telah menyelesaikan "serangan yang sangat sukses" terhadap tiga titik fasilitas nuklir di Iran, Sabtu 21 Juni.

Dalam unggahan di Truth Social, Presiden Trump menyatakan, semua pesawat AS telah keluar dari ruang udara Iran, di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah.

Menlu Araghchi mengatakan, Teheran berhak menggunakan pilihannya sendiri untuk bereaksi.

Berpidato dalam konferensi pers di sela-sela pertemuan OKI di Istanbul pada Minggu, 22 Juni, Menlu Araghchi mengatakan, AS telah melanggar semua aturan dan regulasi internasional dengan menyerang fasilitas nuklir Iran, dikutip dari Tasnim News Agency 23 Juni.

Iran memperingatkan, Washington harus menerima tanggung jawab penuh atas konsekuensi mengerikan dari tindakan agresif tersebut.

Iran ditegaskan Arghchi tidak akan pernah berkompromi atas kedaulatan, kemerdekaan dan integritas teritorialnya.

Teheran akan menggunakan "semua alat dan solusi yang mungkin dan diperlukan" untuk mempertahankan diri, kata Menlu Iran.