JAKARTA - Indonesia dan Rusia sepakat untuk mendorong perdamaian di Jalur Gaza, dengan kedua negara memiliki kerja sama yang erat dan telah berlangsung lama di berbagai bidang, termasuk masalah Timur Tengah.
Hal itu dicapai saat Wakil Menteri Luar Negeri RI Muhammad Anis Matta melakukan pertemuan bilateral dengan Deputi Menteri Luar Negeri Federasi Rusia merangkap Utusan Khusus Presiden Federasi Rusia untuk Timur Tengah dan Afrika, Mikhail Leonidovich Bogdanov, di Jakarta Hari Selasa.
Kedua pihak sepakat untuk mendorong penyelesaian konflik Palestina dan Israel di Gaza dan gencatan senjata, serta mendukung solusi dua negara (two-state solution) sebagai jalan damai yang adil.
"Kerja sama antara Indonesia dan Rusia telah berlangsung lama di sejumlah bidang dan kerja sama terjalin erat juga secara regional dan global, termasuk dalam menyikapi isu Timur Tengah," kata Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta, melansir keterangan Kementerian Luar Negeri RI, Selasa 27 Mei.
Kedua pihak mencatat, konflik di Gaza telah menyebabkan krisis kemanusiaan, seperti banyaknya warga sipil yang menjadi korban dan luka-luka, pengungsian, hancurnya pemukiman dan infrastruktur lainnya.
Selain isu Palestina, kedua pihak juga membahas perkembangan lainnya di Timur Tengah, seperti situasi di Suriah, kerja sama bilateral, dan kerja sama dalam kerangka Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dan BRICS.
Diketahui, konflik terbaru di Gaza pecah pada 7 Oktober, usai kelompok militan Palestina pimpinan Hamas menyerang wilayah selatan Israel, menyebabkan 1.200 orang tewas dan 251 lainnya disandera menurut perhitungan Israel, dikutip dari Reuters.
Pada 19 Januari, kedua negara memberlakukan kesepakatan gencatan senjata dan melakukan pertukaran sandera-tahanan, setelah kesepakatan yang dicapai beberapa hari sebelumnya antara Hamas dengan Israel lewat perantara Mesir, Qatar dan Amerika Serikat.
BACA JUGA:
Israel kembali melakukan blokade total seluruh bantuan pada 2 Maret, mengatakan itu dilakukan untuk menekan kelompok Hamas menerima usul gencatan senjata dan membebaskan seluruh sandera di Jalur Gaza.
Terpisah, sumber medis di Gaza mengonfirmasi pada Hari Selasa, jumlah korban tewas Palestina akibat serangan Israel sejak Oktober 2023 telah meningkat menjadi 54.056 orang, sementara korban luka-luka mencapai 123.129 orang, mayoritas korban adalah perempuan dan anak-anak, seperti melansir WAFA.
Menurut sumber yang sama, jumlah korban tewas sejak Israel memulai kembali genosida pada 18 Maret setelah gencatan senjata selama dua bulan juga telah meningkat menjadi 3.901, selain 11.088 lainnya yang terluka.