JAKARTA — Ribuan pengemudi ojek online (ojol) dari berbagai daerah memadati kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, Selasa (20/5), untuk menyuarakan tuntutan mereka terkait potongan tarif aplikasi yang dinilai semakin mencekik. Para pengemudi meminta agar potongan dari aplikator dibatasi maksimal 10 persen demi keberlangsungan hidup yang layak.
Aksi yang berlangsung damai ini membuat Jalan Medan Merdeka Selatan ditutup total, terutama jalur yang mengarah ke kawasan Gambir. Konsentrasi massa membuat arus lalu lintas dialihkan untuk menghindari kemacetan parah di sekitar kawasan Monas.
"Potongan dari aplikasi sekarang bisa lebih dari 50 persen. Kami tidak menolak aplikasi, tapi kami hanya ingin kebijakan yang lebih manusiawi. Kami kerja dari pagi sampai malam, tapi hasilnya tidak cukup untuk kebutuhan keluarga," ujar Agus, salah satu pengemudi ojol dari Tangerang yang ikut berunjuk rasa.
Tuntutan ini mencerminkan keresahan yang sudah lama dirasakan para pengemudi ojol, yang kerap kali berada di garis depan pelayanan transportasi publik berbasis digital, namun tidak mendapat perlindungan ataupun pembagian keuntungan yang sepadan.
BACA JUGA:
Merespons aksi tersebut, Kapolres Metro Jakarta Pusat, Kombes Pol Susatyo Purnomo Condro menegaskan bahwa pihaknya mengedepankan pendekatan yang ramah dan persuasif dalam pengamanan. Ia memastikan seluruh personel tidak dibekali senjata api dan siap melayani masyarakat yang menyampaikan aspirasi.
“Petugas di lapangan sudah kami arahkan untuk bersikap humanis. Kami hormati hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat di muka umum,” katanya.
Ia juga mengimbau warga Jakarta untuk menghindari kawasan Monas dan Gedung DPR RI selama berlangsungnya aksi guna menghindari kepadatan lalu lintas.
Aksi ini menjadi salah satu bentuk protes terbuka terbesar dari komunitas pengemudi ojek online dalam beberapa bulan terakhir, dan menjadi cerminan meningkatnya tekanan ekonomi yang mereka hadapi akibat kebijakan profit oriented dari aplikator.