Bagikan:

JAKARTA - Ketika para kardinal berkumpul dalam Kongregasi Umum sebelum Konklaf, suasananya ramai dan padat. Satu per satu menyampaikan pandangan, usulan, harapan. Tapi ada satu hal yang menarik perhatian Kardinal Ignatius Suharyo: usulan nama untuk Paus terpilih.

“Kalau bisa, nanti namanya Fransiskus Kedua,” kata salah satu kardinal.

Usulan itu disampaikan bukan karena sekadar ingin melanjutkan tradisi. Tapi karena banyak kardinal ingin semangat Paus Fransiskus tetap hidup—kesederhanaan, kedekatan dengan umat, dan perhatian pada dunia nyata.

“Bahkan ada yang usul Yohanes ke-24,” ujar Kardinal Suharyo dalam dialog dengan Dubes RI untuk Vatikan, Michael Trias Kuncahyono seperti ditonton pada kanal youtube trias kbrivatikan, Kamis, 15 Mei.

Nama memang bukan sekadar simbol. Dalam Gereja Katolik, nama Paus mencerminkan arah kepemimpinan spiritual. Fransiskus dipilih karena mencerminkan semangat Santo Fransiskus dari Assisi—rendah hati, mencintai kaum miskin, dan hidup bersahaja.

Usulan Fransiskus II adalah seruan agar Gereja tetap menjadi wajah kerahiman, bukan menara gading yang jauh dari dunia. Seorang Paus yang pastoral, bukan sekadar teolog, adalah harapan besar para kardinal.

“Gereja masa depan harus hadir, bukan hanya mengajar,” ujar Kardinal Suharyo.

Kongregasi Umum bukan ruang debat kekuasaan. Ia adalah ruang diskusi spiritual. Di situ, nama-nama yang diusulkan bukan nama pribadi, tapi semangat.

Dan ketika suara mengerucut ke satu nama, masih kata Kardinal Ignatius Suharyo, semuanya setuju. Tak ada yang menentang. Tak ada bisik-bisik perlawanan.