Bagikan:

JAKARTA - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menepis kekhawatiran etis tentang rencananya untuk menerima pesawat sebagai hadiah dari keluarga Kerajaan Qatar, dengan mengatakan pada Hari Senin, akan "bodoh" jika menolak tawaran yang murah hati tersebut.

Pesawat mewah senilai 400 juta dolar AS yang akan diperlengkapi untuk berfungsi sebagai Air Force One (pesawat kepresidenan AS), akan menjadi salah satu hadiah paling berharga yang pernah diterima oleh Pemerintah AS.

Berita tentang tawaran tersebut langsung menuai kritik dari Partai Demokrat dan pendukung pemerintahan yang baik, yang memperingatkan itu adalah konflik kepentingan yang dapat memengaruhi keputusan presiden.

Presiden Trump mengatakan pesawat Boeing 747-8 pada akhirnya akan disumbangkan ke perpustakaan kepresidenannya - sebuah tempat penyimpanan yang menyimpan materi penelitian dari pemerintahannya - dan Ia tidak berencana untuk menggunakannya untuk alasan pribadi setelah meninggalkan jabatan.

"Saya pikir itu adalah isyarat yang hebat dari Qatar. Saya sangat menghargainya. Saya tidak akan pernah menolak tawaran semacam itu," kata Presiden Trump kepada wartawan di Gedung Putih sebelum berangkat untuk perjalanan ke Timur Tengah, melansir Reuters 13 Mei.

"Maksud saya, saya bisa menjadi orang bodoh yang mengatakan, 'Tidak, kami tidak menginginkan pesawat terbang yang sangat mahal dan gratis,'" kata Presiden Trump.

Presiden dari Partai Republik tersebut mengaitkan tawaran itu dengan rasa terima kasih atas bantuan AS dalam membela negara-negara di kawasan itu termasuk Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab, yang semuanya merupakan persinggahan dalam rencana perjalanannya minggu ini.

Presiden Trump juga mengatakan, menerima tawaran itu adalah keputusan yang praktis, dan Ia kecewa karena Boeing membutuhkan waktu lama untuk mengirimkan pesawat Air Force One baru yang dipesannya selama masa jabatan pertamanya sebagai presiden.

Terpisah, para pengkritik mengatakan tawaran itu tidak etis dan kemungkinan besar inkonstitusional.

Senator Partai Demokrat Brian Schatz, Chris Murphy, Cory Booker dan Chris Coons mengatakan dalam pernyataan, penerimaan Presiden Trump atas hadiah tersebut akan menciptakan konflik kepentingan yang jelas, menimbulkan pertanyaan keamanan nasional yang serius, dan mengundang pengaruh asing.

Sementara anggota parlemen Joe Courtney dari Connecticut, anggota senior Demokrat di Subkomite Kekuatan Laut dan Kekuatan Proyeksi DPR, mengatakan hal itu akan mengalihkan perhatian dari upaya Angkatan Udara untuk mempercepat pengiriman armada Air Force One yang sebenarnya.

Juru bicara Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan rincian hukum seputar sumbangan ke Departemen Pertahanan masih sedang dikerjakan, dengan Pemerintahan Presiden Trump tidak khawatir tentang apa yang mungkin diminta Qatar sebagai imbalannya.

Dikutip dari Politico, pejabat Qatar mengatakan perihal pemberian pesawat tersebut masih dalam finalisasi dan belum ada keputusan yang diambil.

ABC News melaporkan pada Hari Minggu, pesawat Boeing 747-8 akan tersedia untuk Presiden Donald Trump sebagai Air Force One dan kemudian disumbangkan ke yayasan perpustakaan kepresidenan sehingga ia dapat menggunakannya setelah meninggalkan jabatannya.

Namun Ali Al-Ansari, Atase Media Qatar untuk AS, mengatakan kepada Politico, laporan tersebut "tidak akurat," dan menunjukkan donasi tersebut, paling tidak, masih belum diselesaikan.

"Kemungkinan transfer pesawat untuk penggunaan sementara sebagai Air Force One saat ini sedang dipertimbangkan antara Kementerian Pertahanan Qatar dan Departemen Pertahanan AS, tetapi masalah ini masih dalam peninjauan oleh departemen hukum masing-masing, dan belum ada keputusan yang diambil," katanya.

Pesawat yang dimaksud bernilai 400 juta dolar AS, ABC News melaporkan, dan akan diumumkan selama kunjungan Presiden Trump ke Timur Tengah pekan ini.