Bagikan:

JAKARTA - Pemerintah Brasil menolak permintaan Departemen Luar Negeri Amerika Serikat untuk menetapkan dua geng kriminal besar yang diyakini para pejabat memiliki anggota di Amerika Serikat sebagai organisasi teroris, kata Mario Sarrubo, sekretaris nasional keamanan publik Brasil, kepada Reuters pada Hari Rabu.

Ia mengatakan permintaan tersebut diajukan pada Hari Selasa selama pertemuan antara David Gamble, yang memimpin strategi sanksi untuk Departemen Luar Negeri AS, enam pejabat lain dari pemerintahan Presiden Donald Trump, dan delapan pejabat Brasil di Brasilia.

"Kami tidak memiliki organisasi teroris di sini, kami memiliki organisasi kriminal yang telah menyusup ke masyarakat," kata Sarrubo, yang tidak hadir dalam pertemuan tersebut, melansir Reuters 8 Mei

Namun, hukum Brasil, tambahnya, hanya menganggap organisasi yang secara keras berbenturan dengan pemerintah karena alasan agama atau ras sebagai teroris.

Pada pertemuan di Brasilia, pejabat AS memberi tahu rekan-rekan mereka dari Brasil, permintaan mereka merupakan bagian dari upaya untuk menangani imigrasi dan geng kriminal dengan kehadiran transnasional, dengan mengatakan mereka adalah prioritas bagi pemerintahan Trump, kata salah satu sumber yang hadir.

Diketahui, Presiden Trump telah mencoba mengaitkan tindakan kerasnya yang agresif terhadap imigrasi dengan keberadaan anggota geng kriminal Amerika Latin di kota-kota AS.

Gamble sendiri khawatir tentang geng Primeiro Comando da Capital, yang dikenal sebagai PCC, dan Comando Vermelho, yang dikenal sebagai CV, yang menguasai wilayah di beberapa kota Brasil.

Awal tahun ini, Pemerintah AS menetapkan beberapa kartel narkoba sebagai organisasi teroris, termasuk Tren de Aragua dari Venezuela dan MS13 dari El Salvador.

Dalam beberapa minggu terakhir, pemerintahan Presiden Trump telah mendeportasi ratusan imigran Amerika Latin, dengan tuduhan mereka adalah anggota geng, meskipun tidak ada bukti yang kuat tentang hubungan kriminal mereka.

Terpisah, pejabat AS mengatakan penetapan teroris dapat membantu pemerintah menerapkan sanksi, meningkatkan sumber daya dan menargetkan rantai pasokan kriminal, sumber yang sama menambahkan.

Menurut sumber ini, pejabat AS mengatakan Biro Investigasi Federal (FBI) telah melaporkan PCC dan Comando Vermelho memiliki sel di 12 negara bagian AS, terutama Massachusetts, New Jersey, New York, Florida, Connecticut dan Tennessee.

Laporan tersebut, sumber itu menambahkan, menuduh geng-geng tersebut memperdagangkan senjata api dan mencuci uang melalui warga Brasil yang bepergian ke AS, seraya menambahkan 113 orang ditolak visanya untuk memasuki negara tersebut karena memiliki hubungan dengan kejahatan terorganisir pada tahun 2024 saja.

Pada Bulan Maret, Kantor Kejaksaan AS mendakwa 18 warga Brasil dengan tuduhan memperdagangkan beberapa jenis senjata api di AS. Beberapa kegiatan ilegal tersebut, kata pemerintah, memiliki hubungan dengan PCC, dan banyak warga Brasil yang didakwa berada di AS secara ilegal.

Pada Hari Senin, kantor Senator Flavio Bolsonaro, putra mantan Presiden Brasil Jair Bolsonaro, mengatakan Ia bertemu dengan pejabat Trump Organization untuk menyampaikan berkas yang menurutnya berisi informasi intelijen yang menghubungkan PCC dan CV dengan aksi teroris.