JAKARTA - Listrik di Spanyol dan Portugal kembali menyala, setelah pemadaman terburuk yang pernah dialami, dengan petugas berwenang belum memberikan penjelasan mengenai penyebab, sementara Perdana Menteri Pedro Sanchez enggan terburu-buru mengambil kesimpulan penyebab insiden tersebut.
Lampu lalu lintas kembali menyala, layanan kereta api dan metro perlahan pulih dan sekolah dibuka kembali. Para penumpang berjuang melawan penundaan untuk kembali bekerja setelah pemadaman listrik yang membuat orang-orang terlantar di lift dan terputus dari kontak telepon dengan keluarga mereka.
Pemadaman listrik mendadak itu telah menyebabkan permintaan listrik di Spanyol turun hingga 60 persen dalam waktu lima detik sekitar tengah hari pada Hari Senin.
Sementara operator jaringan listrik Spanyol REE pada Hari Selasa mengesampingkan serangan siber sebagai penyebabnya, Pengadilan Tinggi Spanyol mengatakan akan menyelidiki apakah infrastruktur energi negara itu telah mengalami serangan teroris.
Sementara itu, Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez mengatakan pemerintahnya tidak mengesampingkan hipotesis apa pun.
"Kita tidak boleh terburu-buru mengambil (kesimpulan) dan (melakukan) kesalahan karena tergesa-gesa," kata PM Sanchez pada Hari Selasa, melansir Reuters 30 April.
"Kita akan mencari tahu apa yang terjadi dalam lima detik itu," lanjutnya.
REE mengatakan telah mengidentifikasi dua insiden hilangnya daya listrik, kemungkinan dari pembangkit listrik tenaga surya, di barat daya Spanyol yang menyebabkan ketidakstabilan dalam sistem kelistrikan dan menyebabkan putusnya interkoneksinya dengan Prancis.
Spanyol adalah salah satu produsen energi terbarukan terbesar di Eropa, dan pemadaman listrik tersebut memicu perdebatan tentang apakah volatilitas pasokan dari tenaga surya atau angin membuat sistem tenaga listriknya lebih rentan.
Di Portugal, pemerintah mengatakan rumah sakit telah kembali beroperasi, bandara beroperasi meskipun ada penundaan di Lisbon, sementara metro ibu kota mulai beroperasi kembali dan kereta api kembali beroperasi.
Sebelumnya, keadaan darurat diumumkan di banyak wilayah Spanyol pada Hari Senin akibat pemadaman, dengan sekitar 30.000 polisi dikerahkan. Di stasiun Atocha di Madrid, polisi dan pekerja Palang Merah membagikan selimut dan botol air.
Tiga orang meninggal karena dugaan keracunan karbon monoksida di wilayah barat laut Galicia setelah menyalakan generator untuk menyalakan mesin oksigen bagi salah satu korban, kata layanan darurat regional.
Carlos Cagigal, seorang pakar energi, mengatakan pemadaman listrik mungkin terjadi karena pembangkit listrik tenaga nuklir Spanyol tidak beroperasi pada saat itu, yang berarti semua listriknya berasal dari sumber terbarukan yang memasok gardu induk yang jenuh.
Ketika salah satu gardu induk tersebut gagal dan tidak ada cadangan yang memadai, protokol keselamatan mulai berlaku dan sistem terputus, katanya.
"Mengingat ketidakseimbangan sistem ini, ada sedikit risiko hal ini terjadi lagi," katanya.
Februari lalu, Redeia, yang memiliki Red Electrica, memperingatkan dalam laporan tahunannya, mereka menghadapi risiko "pemutusan sambungan karena penetrasi energi terbarukan yang tinggi tanpa kapasitas teknis yang diperlukan untuk respons yang memadai dalam menghadapi gangguan".
Alberto Nunez Feijoo, pemimpin Partai Rakyat konservatif oposisi, mengatakan pemerintah harus memikirkan kembali rencananya untuk menutup pembangkit listrik tenaga nuklir.
BACA JUGA:
Namun, PM Sanchez pada Hari Selasa mengenyampingkan kelebihan energi terbarukan sebagai penyebab runtuhnya jaringan.
Ia mengatakan, pembangkit listrik tenaga nuklir Spanyol masih belum beroperasi kembali pada Hari Selasa, yang menurutnya menunjukkan pembangkit listrik tersebut tidak lebih tangguh daripada energi terbarukan.
Ia mengatakan permintaan pada saat pemadaman listrik relatif rendah dan pasokannya cukup.
"Apa yang terjadi kemarin (Senin) merupakan peristiwa luar biasa dalam situasi normal sehari-hari," kata PM Sanchez.