JAKARTA - Menteri Luar Negeri RI Sugiono mengatakan organisasi kerja sama ekonomi BRICS harus bergerak cepat dan tepat untuk mewujudkan reformasi, saat menghadiri BRICS Foreign Ministers’ Meeting (FMM) di Rio de Janeiro, Brasil, Hari Senin.
Menlu Sugiono menyampaikan hal tersebut dalam pernyataan nasional pada sesi kedua pertemuan yang bertema 'Reformasi Institusi Internasional untuk Tata Kelola yang Lebih Inklusif dan Berkelanjutan’.
Pada sesi ini, Menlu Sugiono menggarisbawahi urgensi untuk menjadikan multilateralisme lebih inklusif, transparan, terpercaya dan responsif terhadap tantangan global.
Menlu Sugiono menegaskan pentingnya reformasi lembaga-lembaga global, termasuk mendorong perluasan keanggotaan Dewan Keamanan PBB, memperkuat suara negara negara berkembang dalam lembaga keuangan internasional.
Lebih jauh Menlu RI juga menegaskan pentingnya penguatan peran WHO (Organisasi Kesehatan Dunia) dalam membangun sistem kesehatan global yang tangguh, khususnya menghadapi pandemi dan krisis kesehatan global.
Tak hanya di bidang kesehatan, Indonesia juga mendorong reformasi pada Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) agar berbasis pada kepentingan negara-negara anggotanya.
Menlu Sugiono menekankan, BRICS harus menjadi pelopor dalam mewujudkan dunia yang lebih adil, damai dan berkelanjutan.
"Kita harus bergerak dari visi menuju implementasi nyata dengan mengambil dengan mengambil langkah-langkah cepat dan tepat untuk mewujudkan reformasi," tegasnya, dalam keterangan Kementerian Luar Negeri RI, Selasa 29 April.
Pada kesempatan yang sama, Indonesia juga mengumumkan komitmennya untuk bergabung dengan New Development Bank sebagai bentuk dukungan terhadap perluasan akses pembiayaan pembangunan bagi negara-negara Global South.
Sebelumnya, dalam sesi pertama pertemuan Menlu Sugiono menegaskan BRICS harus menjadi yang terdepan dalam memperjuangkan hukum internasional dan tidak ada satu pihak pun yang kebal hukum.
Diketahui, BRICS FMM yang digelar di Rio de Janeiro pada 28-29 April 2005 menjadi FMM pertama yang dihadiri Menlu RI sejak Indonesia menjadi anggota penuh BRICS awal Januari tahun ini.
Sebagai Ketua BRICS tahun ini, Brasil mengangkat tema "Strengthening Global South Cooperation for More Inclusive and Sustainable Governance".
FMM kali ini akan membahas berbagai aspek persiapan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT/Summit) BRICS, khususnya dokumen keluaran (outcome documents) yang masih dinegosiasikan oleh negara-negara anggota BRICS.
Pertemuan Menlu BRICS kali ini juga diharapkan dapat menghasilkan Joint Statement yang mencerminkan komitmen bersama di bidang politik, keamanan, ekonomi, pembangunan, reformasi tata kelola global, serta berbagai isu lainnya.
BACA JUGA:
BRICS didirikan pada tahun 2006 oleh Brasil, Rusia, India dan China, dengan Afrika Selatan bergabung pada tahun 2011. Pada tanggal 1 Januari 2024, Mesir, Ethiopia, Iran, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab menjadi anggota penuh.
Awal tahun ini, Brasil sebagai Presidensi BRICS 2025 awal pekan ini mengumumkan diterimanya Indonesia sebagai anggota BRICS.
Di sela-sela gelaran BRICS FMM 2025, Menlu RI telah melakukan pertemuan bilateral dengan Menlu Brasil, serta pertemuan pull-aside dengan Menlu Ethiopia dan Menteri Negara untuk Kerja Sama Internasional Persatuan Emirat Arab (UEA) guna membahas penguatan kerja sama, baik dalam konteks bilateral maupun BRICS.