JAKARTA - Kementerian Pertahanan Korea Selatan mengecam Korea Utara atas konfirmasi pertama pengerahan pasukan untuk mendukung perang Rusia melawan Ukraina, mengatakan Korea Utara mengakui tindakan kriminalnya sendiri dengan pengumuman tersebut.
Korut mengonfirmasi telah mengirim pasukan ke Rusia atas "perintah" Pemimpin Kim Jong-un sesuai perjanjian pertahanan bersama Pyongyang dengan Moskow, mengklaim tentara Korut membantu Rusia mendapatkan kembali kendali atas Kursk.
"Pasukan Korea Utara yang terlibat dalam perang Ukraina adalah tindakan tidak sah yang jelas-jelas melanggar Piagam PBB dan resolusi Dewan Keamanan," kata juru bicara kementerian Jeon Ha-kyou dalam jumpa pers rutin, melansir The Korea Times 28 April.
"Dengan mengakuinya secara resmi, (Korea Utara) telah mengakui tindakan kriminalnya sendiri," lanjutnya.
Lebih jauh Jeon juga menyebut deskripsi Korut tentang pengerahan pasukan yang sejalan dengan semangat perjanjian internasional sebagai "tipuan."
Komisi Militer Pusat Korea Utara mengatakan dalam sebuah pernyataan, aktivitas militer pasukan Korea Utara di Rusia "sepenuhnya sesuai dengan semangat Piagam PBB dan hukum internasional lainnya" dan perjanjian pertahanan bersama Korea Utara dengan Rusia berfungsi sebagai "contoh teladan."
"Itu hanyalah tindakan penipuan yang bertujuan untuk memperindah tindakan tidak sah Korea Utara," kata Jeon, seraya menambahkan militer akan memantau dengan saksama pergerakan yang terkait dengan kemungkinan kunjungan Pemimpin Kim ke Rusia.
BACA JUGA:
Sebelumnya, Badan Intelijen Nasional Korea Selatan mengatakan pada Bulan Oktober 2024, Korea Utara telah memutuskan untuk mengirim lebih dari 10.000 tentara ke Rusia.
Militer memperkirakan, Korea Utara mengirim 3.000 tentara tambahan ke wilayah Kursk pada Bulan Januari dan Februari 2025.