NTB - Pemerintah Kota (Pemkot) Mataram di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) masih menunggu kepastian pembangunan Tempat Pengolahan sampah Terpadu (TPST) Kebon Talo, Ampenan. TPST itu direncanakan dapat mengubah sampah menjadi listrik dengan teknologi ramah lingkungan.
"Informasinya akhir tahun 2024 yang kami terima dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), sudah dalam tahap tender. Tapi sejauh ini belum ada kabar lagi," kata Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Mataram Nizar Denny Cahyadi di Mataram, Senin 14 April, disitat Antara.
Namun demikian, pihaknya berharap agar rencana tersebut bisa tetap dilaksanakan sebab Kota Mataram sangat membutuhkan keberadaan TPST tersebut.
Dalam perencanaannya, pembangunan TPST Kebon Talo mendapatkan alokasi anggaran dari pemerintah pusat sebesar Rp96 miliar, dengan konsepnya pembangunan TPST Kebon Talo direncanakan akan mengakomodasi sampah dari dua kecamatan yakni Kecamatan Ampenan dan Selaparang.
Dalam konsepnya TPST Kebon Talo berkapasitas 120 ton akan dibangun di atas lahan seluas satu hektare lebih menggunakan teknologi insinerator atau sistem pembakaran ramah lingkungan.
Teknologi insinerator merupakan salah satu alat pemusnah sampah yang dilakukan melalui pembakaran pada suhu tinggi.
BACA JUGA:
Dengan teknologi insinerator yang akan diterapkan ini dapat mengubah panas dari hasil pembakaran yang sudah di rubah menjadi uap air dimanfaatkan untuk dikonversikan ke tenaga listrik.
Dengan demikian, hasil pengolahan sampah di TPST modern Sandubaya dengan TPST Kebon Talo nantinya akan berbeda.
"Kalau TPST Sandubaya hasil pengolahan sampah berbentuk padat seperti pakan maggot, dan batako, kalau di TPST Kebon Talo berupa uap cair atau listrik," katanya.
Terkait dengan itu, dia berharap alokasi yang sudah disiapkan pemerintah itu masih tetap ada pada pos anggaran yang ada.
"Semoga tidak terkena efisiensi," tandasnya.