Bagikan:

JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung merespons keluhan dari warga mengenai bau tak sedap dari proses pengolahan sampah di Refuse Derived Fuel (RDF) Plant Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara.

Bahkan, salah seorang anak berusia 5 tahun turut memprotes bau busuk dari RDF Rorotan. Bocah bernama Kefas ini melontarkan keluhan lewat surat yang tertulis bahwa dirinya sampai tak nafsu makan akibat bau tak sedap tersebut.

Pramono mengaku akan langsung mengecek ke lokasi RDF Plant Rorotan untuk mengetahui penyebab pencemaran bau sampah yang mengganggu warga.

"Saya membaca keberatan atau keluh kesah dan sebagainya. Untuk itu, saya ke lapangan dulu lah, saya pengen lihat dulu ya," kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Rabu, 19 Maret.

Mantan Sekretaris Kabinet itupun belum mau membeberkan langkah apa yang akan diambil Pemprov DKI dalam mengatasi permasalahan bau akibat pengoperasian fasilitas pengolahan sampah tersebut.

"Saya belum bisa berkomentar sebelum saya melihat langsung. Karena ini kan dibuat sebelum saya, jauh, dan sekarang kan sudah jadi," kata dia.

Masalah bau tak sedap RDF Rorotan telah mengganggu warga sejak Februari lalu. Saat itu, proses pra-commissioning RDF bocor dan menimbulkan bau sampah yang dirasakan warga sekitar.

Commissioning adalah proses pengujian dan pemeriksaan untuk memastikan sistem dan peralatan berfungsi sesuai dengan spesifikasi. Proses ini dimulai sejak akhir pekan lalu.

Project Manager Pembangunan RDF Plant Jakarta KSO Wika-Jaya Konstruksi, Angga Bagus meminta maaf atas insiden tersebut.

“Kami sangat menyesal atas insiden yang sempat dirasakan warga sekitar RDF Plant Jakarta. Kami memastikan kejadian tersebut tidak terulang kembali, serta akan mengambil langkah-langkah preventif agar kejadian serupa tidak terjadi kembali,” kata Angga dalam keterangannya, Kamis, 13 Februari.

Angga menjelaskan, bocornya bau tak sedap dalam proses commisioning fasilitas pengolahan sampah menjadi bahan bakar ini terjadi akibat proses pengaturan (set up) unit Advanced Oxidation Process (AOP) pada deodorizer yang saat itu belum beroperasi penuh.

Saat ini, Angga mengklaim seluruh sistem telah berjalan sempurna dan siap beroperasi secara optimal.

“Proses penyetelan dari peralatan pengendali bau dan asap ini yang menyebabkan peralatan tersebut belum bekerja optimal. Jika set up selesai, pasti akan bekerja dengan baik,” jelas Angga.

Untuk mengatasi insiden tersebut, tim teknis RDF Plant Jakarta melakukan evaluasi terhadap bekerjanya sistem deodorizer agar fasilitas ini dapat beroperasi sesuai standar lingkungan.

"Ke depan, kami memastikan bahwa seluruh teknologi pengendalian bau akan bekerja dengan maksimal, sehingga RDF Plant Jakarta dapat beroperasi tanpa dampak negatif bagi masyarakat sekitar," imbuh dia.