JAKARTA - Pemerintahan Presiden Donald Trump dimintai pendapatnya oleh Israel mengenai serangan mematikannya di Gaza. Serangan Israel menewaskan lebih dari 320 orang.
"Pemerintahan Trump dan Gedung Putih dimintai pendapatnya oleh Israel mengenai serangan mereka di Gaza," kata sekretaris pers Gedung Putih Karoline Leavitt dalam wawancara dengan Fox News dilansir Reuters, Selasa, 18 Maret.
Petugas medis Palestina di Gaza melaporkan puluhan orang tewas setelah serangkaian serangan udara paling kejam oleh Israel di daerah Palestina itu sejak gencatan senjata dicapai pada 19 Januari antara Israel dan militan Hamas.
Seorang pejabat senior Hamas mengatakan Israel secara sepihak membatalkan perjanjian gencatan senjata.
"Seperti yang telah diperjelas oleh Presiden Trump - Hamas, Houthi, Iran, semua pihak yang berusaha meneror bukan hanya Israel, tetapi juga Amerika Serikat, akan menghadapi harga yang harus dibayar. Semua kekacauan akan terjadi," kata juru bicara Gedung Putih.
Trump sebelumnya mengeluarkan peringatan secara terbuka dengan menggunakan kata-kata yang serupa, dengan mengatakan Hamas harus membebaskan semua sandera di Gaza atau "membiarkan kekacauan terjadi."
BACA JUGA:
Pertumpahan darah terbaru dalam konflik Israel-Palestina yang telah berlangsung puluhan tahun dipicu pada 7 Oktober 2023, ketika militan Hamas Palestina menyerang Israel, menewaskan 1.200 orang dan menyandera sekitar 250 orang, menurut sekutu Israel.
Serangan militer Israel berikutnya di Gaza menewaskan lebih dari 48.000 warga Palestina, menurut kementerian kesehatan setempat. Serangan ini juga memicu tuduhan genosida dan kejahatan perang yang dibantah Israel.
Serangan itu telah mengungsikan hampir seluruh 2,3 juta penduduk Gaza dan menyebabkan krisis kelaparan.
Trump juga dikecam atas rencananya untuk mengusir warga Palestina dari Gaza dan agar AS mengambil alih daerah itu. Kelompok hak asasi manusia, PBB, Palestina, dan negara-negara Arab mengatakan usulan Trump, yang ia sampaikan sebagai rencana pembangunan kembali, akan menjadi pembersihan etnis.
Washington secara terpisah meluncurkan gelombang serangan udara baru pada Sabtu di Yaman, dengan puluhan anggota gerakan Houthi tewas. Sementara Houthi mengatakan 53 orang tewas.