JAKARTA - Kyiv mulai mengkaji cara mengawasi gencatan senjata di sepanjang garis depan perangnya dengan Rusia, yang membentang sepanjang lebih dari 1.300 km (800 mil).
Presiden AS Donald Trump mendesak Presiden Rusia Vladimir Putin untuk menerima usulan gencatan senjata yang dinegosiasikan Washington dengan Ukraina.
Putin pada Kamis menyambut baik rencana tersebut secara prinsip tetapi mengemukakan sejumlah syarat, yang mengisyaratkan tidak akan ada kesepakatan cepat dari Moskow, dan memicu skeptisisme di Kyiv.
"Untuk menghindari kemungkinan provokasi dari pihak Rusia, kami perlu bersiap," kata Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha kepada wartawan pada Jumat, 14 Maret.
Dilansir Reuters, Sybiha mengatakan tim akan dibentuk untuk mempertimbangkan cara memantau gencatan senjata.
Pada Kamis, Sybiha mengunggah di X menuliskan "Putin berusaha untuk melanjutkan perang. Sisa kata-katanya hanyalah kedok asap.”
Sybiha merupakan bagian dari delegasi Ukraina yang bertemu dengan perwakilan Amerika di Arab Saudi dan mengatakan bahwa Kyiv mendukung usulan Washington untuk gencatan senjata selama 30 hari dalam invasi skala penuh yang dilancarkan Rusia tiga tahun lalu.
BACA JUGA:
Menlu Ukraina mengatakan pengawasan akan menjadi rumit, mengingat pengalaman negatif Ukraina dengan gencatan senjata di bawah proses Minsk yang didukung Jerman dan Prancis dengan pemberontakan yang didukung Rusia di Ukraina timur sejak 2014 dan seterusnya. Rusia sekarang menguasai sekitar seperlima wilayah Ukraina.
Dalam survei yang dipublikasikan pada Jumat oleh Institut Sosiologi Internasional Kyiv, 50% responden menentang penyerahan wilayah apa pun dengan imbalan perdamaian dan jaminan kemerdekaan, dibandingkan dengan 51% pada bulan Desember, sementara 39% mendukung.