JAKARTA - Pasukan Rusia merebut kembali lebih dari 800 km persegi (309 mil persegi) wilayah Kursk di Rusia barat dari pasukan Ukraina.
Kepala Direktorat Operasional Utama Staf Umum, Kolonel Jenderal Sergei Rudskoi, mengatakan kepada surat kabar Krasnaya Zvezda, pasukan Rusia maju ke segala arah dan Ukraina telah didorong ke posisi defensif sejak Februari 2024 di tengah serangan besar Rusia yang merebut kembali banyak wilayah.
Rudskoi mengatakan Rusia kini menguasai 75% wilayah Donetsk, Zaporizhzhia, dan Kherson di Ukraina serta lebih dari 99% wilayah Luhansk.
Keempat wilayah tersebut diklaim secara sah menjadi bagian dari Rusia dan tidak akan pernah dikembalikan ke Ukraina.
“Tahun lalu merupakan titik balik dalam mencapai tujuan kami. Rezim Kyiv tidak lagi mampu mengubah situasi di medan perang secara signifikan,” kata Rudskoi dilansir Reuters, Kamis, 20 Feebruari.
“Musuh sebagian besar telah kehilangan kemampuan untuk memproduksi senjata, peralatan, dan amunisi yang diperlukan. Mobilisasi biasanya dilakukan secara paksa,” imbuhnya.
Rudskoi mengatakan masa depan konflik tidak lagi bergantung pada Ukraina tetapi pada apakah negara-negara Barat setuju atau tidak untuk merancang arsitektur keamanan Eropa baru yang mempertimbangkan kepentingan Rusia.
Diberitakan sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengubah kebijakan AS mengenai perang di Ukraina, dengan mengecam Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy sebagai seorang "diktator”.
Trump memperingatkan Zelenskyy harus bergerak cepat untuk mengamankan perdamaian atau berisiko kehilangan negaranya.
Saling balas pernyataan ini memperdalam perseteruan antara kedua pemimpin yang membuat khawatir para pejabat Eropa.
Rusia menginvasi Ukraina pada tahun 2022 sebagai bagian dari apa yang disebut Presiden Vladimir Putin sebagai “operasi militer khusus”, yang memicu perang paling mematikan di Eropa sejak Perang Dunia Kedua dan mengadu pasukan Rusia melawan tentara Ukraina yang didukung Barat.