JAKARTA - Aliansi pemberontak yang didominasi Tuareg di Mali utara menuduh tentara Mali, didampingi tentara bayaran Wagner Rusia, membunuh 24 warga sipil yang melakukan perjalanan ke utara ke Aljazair dari kota Gao, ketika tentara melaporkan bentrokan di wilayah tersebut.
Mali yang dipimpin oleh junta militer, selama lebih dari satu dekade memerangi kelompok jihad yang bersekutu dengan ISIS dan Al Qaeda, sembari bergulat dengan sejarah pemberontakan yang dipimpin Tuareg di utara.
Front Pembebasan Azawad (FLA) mengatakan warga sipil melakukan perjalanan dengan dua kendaraan, salah satunya dibakar.
Sementara yang lain melarikan diri bersama beberapa orang yang selamat.
Anggota keluarga dari tiga korban, serta juru bicara asosiasi hak asasi manusia setempat Kal Akal, membenarkan kejadian tersebut kepada Reuters dilansir Selasa, 18 Februari.
Salah satu kendaraan tersebut sedang mengangkut migran, kata salah satu anggota keluarga pengemudi.
Secara terpisah, FLA mengatakan tentara Mali dan pejuang Wagner telah membunuh empat orang pada hari Minggu di desa Aslagh di wilayah Kidal.
BACA JUGA:
Dalam insiden ketiga, pejuang FLA bentrok dengan tentara Mali dan pejuang Wagner antara Anefis dan Aguelhok di wilayah Kidal, menyebabkan lima pejuang FLA tewas, menurut sumber FLA.
Juru bicara angkatan bersenjata Mali tidak segera menanggapi permintaan komentar.
Angkatan bersenjata mengatakan serangkaian bentrokan telah terjadi di barat Aguelhok dan barat laut Anefis, menewaskan tujuh “teroris”, istilah yang digunakan untuk pemberontak FLA.
Pernyataan itu juga mengatakan angkatan bersenjata telah menargetkan “sekelompok teroris” dengan menggunakan drone pada Senin pagi di zona yang sama.