Bagikan:

JAKARTA - Menteri Pertahanan Israel, Israel Katz mengkritik keras pengumuman penundaan pembebasan sandera di Jalur Gaza oleh Hamas, memerintahkan Israel Defense Forces (IDF) untuk siaga atas segala kemungkinan yang terjadi.

Menhan Katz menyebut langkah kelompok militan Palestina menunda pembebasan sebagai "pelanggaran langsung terhadap gencatan senjata."

"Saya menginstruksikan IDF untuk bersiap pada tingkat kewaspadaan tertinggi untuk setiap kemungkinan skenario di Gaza dan untuk melindungi masyarakat," jelas Menhan Katz, melansir The Times of Israel 11 Februari.

"Kami tidak akan kembali ke kenyataan 7 Oktober," katanya, merujuk pada serangan kelompok militan Palestina ke wilayah selatan Israel yang memicu konflik terbaru di Gaza.

Diberitakan sebelumnya, kelompok militan Palestina Hamas pada Hari Senin mengumumkan akan menunda pembebasan sandera Israel yang direncanakan akhir pekan ini hingga pemberitahuan lebih lanjut, lantaran Israel melanggar gencatan senjata.

"Pembebasan tahanan, yang dijadwalkan pada hari Sabtu mendatang, 15 Februari 2025, akan ditunda hingga pemberitahuan lebih lanjut, sambil menunggu kepatuhan pendudukan dan pemenuhan kewajiban minggu-minggu sebelumnya secara retroaktif," kata juru bicara sayap militer Hamas Abu Ubaida.

Kendati demikian, Hamas mengatakan terbuka untuk memenuhi pembebasan tepat waktu, jika Israel menghentikan pelanggaran. Abu Ubaida mengatakan, pihaknya berkomitmen terhadap perjanjian gencatan senjata, selama Israel mematuhinya.

"Kami menegaskan kembali komitmen kami terhadap ketentuan perjanjian selama pendudukan mematuhinya," jelasnya.

Dalam pernyataannya pada Hari Senin, Hamas mengatakan mereka telah "memantau dengan cermat pelanggaran dan kegagalan musuh untuk mematuhi ketentuan perjanjian selama tiga minggu terakhir."

"Ini termasuk menunda pemulangan orang-orang yang mengungsi ke Gaza utara, menargetkan mereka dengan penembakan dan tembakan di berbagai wilayah di Jalur Gaza, dan gagal mengizinkan masuknya bantuan kemanusiaan dalam segala bentuknya sebagaimana disepakati," katanya, menegaskan Hamas telah memenuhi semua kewajibannya.

Di Washington, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan kesepakatan gencatan senjata dan pembebasan sandera bertahap di Jalur Gaza dibatalkan jika Hamas tidak membebaskan sandera pekan ini, menyusul pengumuman penangguhan oleh kelompok militan Palestina itu.

Presiden Trump mengatakan, gencatan senjata Gaza dan kesepakatan pembebasan sandera harus dibatalkan jika semua sandera tidak dibebaskan paling lambat pukul 12 siang Sabtu pekan ini.

"Biarkan semua neraka pecah," katanya kepada wartawan dari Ruang Oval Gedung Putih.

Presiden Trump menekankan, pada akhirnya keputusan ada di tangan Israel, menambahkan "Saya berbicara untuk diri saya sendiri. Israel dapat mengesampingkannya."

Diketahui, setelah perang selama 15 bulan, gencatan senjata dan pembebasan sandera bertahap antara Hamas dan Israel menyepakati gencatan senjata yang diumumkan pada 15 Januari di Doha, usai mediasi oleh Qatar, Mesir dan Amerika Serikat selama berbulan-bulan.

Kesepakatan tiga tahap itu mulai berlaku pada 19 Januari, setelah sempat tertunda selama beberapa jam.

Sejauh ini, 16 dari 33 sandera yang akan dibebaskan dalam fase pertama kesepakatan selama 42 hari telah pulang, sementara lima sandera Thailand dikembalikan dalam pembebasan yang tidak dijadwalkan, dikutip dari Reuters.

Sebagai gantinya, Israel telah membebaskan ratusan tahanan dan narapidana, termasuk tahanan yang menjalani hukuman seumur hidup karena serangan mematikan dan warga Palestina yang ditahan selama perang dan ditahan tanpa dakwaan.