Bagikan:

JAKARTA - Duta besar khusus Kementerian Luar Negeri Rusia Grigory Mashkov mengatakan dalam sebuah artikel di 'Jurnal Urusan Internasional', Rusia mungkin akan mencabut pembatasan kuantitatif pada persenjataan nuklirnya, jika Amerika Serikat terus maju dengan pengembangan sistem pertahanan rudal.

"Dalam realitas yang muncul, tidak mungkin lagi berbicara tentang stabilitas strategis dalam konteks bilateral klasiknya, atau kita mungkin akan terjerumus ke dalam ilusi lain," jelasnya dilansir dari TASS 31 Januari.

"Telah muncul banyak aktor di arena internasional yang memengaruhi jajaran kekuatan rudal global. Tidak dapat dikesampingkan dalam kondisi konfrontasi saat ini dengan Barat, dengan kebijakannya untuk menimbulkan kerusakan strategis pada Rusia, kita mungkin menghadapi kebutuhan untuk menjauh dari pembatasan persenjataan nuklir dan rudal demi peningkatan kuantitatif dan kualitatifnya," lanjut Mashkov.

Lebih jauh ia menjelaskan, pengembangan lebih lanjut dari sistem pertahanan rudal global Negeri Paman Sam "mengakhiri prospek pengurangan senjata ofensif strategis dan pemeliharaan stabilitas strategis pada ketentuan sebelumnya."

"Perlombaan senjata rudal sudah berlangsung gencar. Begitu pula modernisasi persenjataan nuklir dan kendaraan pengangkut WMD (senjata pemusnah massal) dalam skala besar. Militerisasi ruang angkasa tengah mendapatkan momentum, yang, dalam waktu dekat, kemungkinan akan menjadi ajang konfrontasi militer lainnya. Teknologi baru (kecerdasan buatan, komputer kuantum dan lainnya), yang dapat melipatgandakan potensi musuh di area strategis, termasuk pertahanan rudal, mulai berperan di sini," tambah Mashkov.

Ia melihat salah satu langkah balasan dalam penyesuaian sikap Rusia terhadap aspek-aspek tertentu dari NPT.

"Secara khusus, akan mungkin untuk menganalisis dan merevisi pendekatan kita terhadap realitas yang ada, misalnya, dokumen akhir Konferensi Tinjauan 2000. Hilangnya relevansi paragraf ketujuh dari Langkah-Langkah Praktisnya, yang mengatur pelestarian dan penguatan Perjanjian ABM, yang dirusak oleh pemerintah AS dua tahun setelah diadopsi, telah merusak sifat komprehensif dari keseluruhan paket," urai Mashkov.

"Kita harus meninjau ulang semua komitmen kita di bidang penguatan transparansi dan langkah-langkah membangun kepercayaan, dan menangguhkan diskusi tentang risiko dan ancaman nuklir, yang menjadi omong kosong dalam konteks meningkatnya upaya Barat untuk melemahkan kekuatan pencegah nuklir strategis dan non-strategis. Secara umum, bidang lain seperti pengendalian senjata, perlucutan senjata, dan non-proliferasi harus lebih selaras dengan ambisi dominasi global AS. Sulit untuk menilai apakah kebijakan kerja sama kita dengan Amerika hanya di bidang yang mereka minati masuk akal, jika memang masuk akal," pungkasnya.