JAKARTA - Korban tewas serangan udara Israel di Gaza bertambah menjadi 77 orang. Serangan terjadi beberapa jam setelah pengumuman kesepakatan gencatan senjata Gaza.
Perjanjian gencatan senjata yang rumit muncul pada Rabu, 15 Januari, setelah mediasi oleh Qatar, Mesir dan Amerika Serikat untuk menghentikan perang yang telah menghancurkan wilayah pesisir dan mengobarkan gejolak Timur Tengah.
Kesepakatan yang dijadwalkan akan dilaksanakan mulai Minggu, 19 Januari, menguraikan gencatan senjata awal selama enam minggu dengan penarikan bertahap pasukan Israel dari Jalur Gaza.
Sandera yang disandera oleh kelompok militan Hamas, yang menguasai daerah tersebut, akan dibebaskan dengan imbalan tahanan Palestina yang ditahan oleh Israel.
Penerimaan Israel terhadap perjanjian tersebut tidak akan resmi sampai disetujui oleh kabinet keamanan dan pemerintah negara tersebut, dan pemungutan suara dijadwalkan pada Kamis, kata seorang pejabat Israel.
Namun, Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menuduh Hamas membuat tuntutan pada menit-menit terakhir dan membatalkan perjanjian.
“Kabinet Israel tidak akan bersidang sampai para mediator memberi tahu Israel bahwa Hamas telah menerima semua elemen perjanjian tersebut,” kata pernyataan dari kantor Netanyahu dilansir Reuters, Kamis, 16 Januari.
Tidak jelas apa dampak penundaan terbaru terhadap kesepakatan tersebut.
BACA JUGA:
Kelompok garis keras di pemerintahan Netanyahu masih berharap untuk menghentikan kesepakatan tersebut, meskipun mayoritas menteri diperkirakan masih mendukungnya.
Menteri Keuangan Bezalel Smotrich mengatakan partainya hanya akan bertahan di pemerintahan jika Israel melanjutkan perang dengan kekuatan penuh sampai Hamas dikalahkan. Menteri kepolisian sayap kanan Itamar Ben-Gvir juga mengancam akan mundur dari pemerintahan jika gencatan senjata disetujui.