Donggala Dicanangkan Jadi Pusat Pembibitan dan Pengembangan Tanaman Porang di Sulteng
Gubernur Sulteng Terpilih Rusdy Mastura dan jajaran mencanangkan Donggala sebagai pusat pembibitan dan pengembangan porang. (Foto: Antara)

Bagikan:

JAKARTA - Gubernur Sulawesi Tengah terpilih periode 2021-2024 Rusdy Mastura mencanangkan Kabupaten Donggala menjadi pusat pembibitan dan pengembangan tanaman porang, untuk meningkatkan perekonomian masyarakat perdesaan setelah dua tahun lebih gempa dan tsunami melanda kabupaten tersebut.

"Porang merupakan salah satu komoditas yang diharapkan bisa meningkatkan kesejahteraan petani karena memiliki nilai ekonomis tinggi dan menjadi kebutuhan pangan dunia," kata Rusdy Mastura dilansir Antara, Jumat, 9 April

Pencanangan tersebut berlangsung di Desa Tambu, dilakukan pada pembukaan seminar porang dan pembangunan kawasan industri desa dan perdesaan (KID/P) dihadiri para kepala desa, kepala BPD, direktur BUMDes, dan sejumlah tokoh dari lima kecamatan yakni Balaesang Tanjung, Balaesang, Dampelas, Sojol, dan Sojol Utara, Senin, 5 April.

Kawasan industri desa dan perdesaan serta pusat pembibitan porang Sulawesi Tengah di Desa Tambu, digagas oleh Forum Bisnis Pangan Sulteng.

Pencanangan ditandai dengan penandatanganan naskah pencanangan dan penyerahan bibit porang secara simbolis kepada lima petani mewakili lima kecamatan di wilayah Donggala bagian utara tersebut.

Rusdy Mastura mengatakan petani tidak perlu kuatir dengan pemasaran porang karena dirinya sudah membuka akses ke sejumlah perusahaan di Sulawesi Selatan maupun di pulau Jawa yang siap membeli.

Bahkan kata dia, dirinya juga akan berusaha agar ada industri besar yang membuka pabrik di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu sehingga bisa langsung diekspor ke sejumlah negara yang membutuhkan.

Sementara itu Ketua Forum Bisnis Pangan Sulteng yang juga penggagas pembangunan Kawasan Industri Desa dan Perdesaan Adha Nadjemuddin mengatakan Kawasan Industri Desa dan Perdesaan adalah solusi memajukan perekonomian di desa karena sistem kawasan tersebut memiliki beberapa keunggulan antara lain membuka lapangan kerja baru.

"Hadirnya industri pengolahan dalam kawasan akan merekrut banyak tenaga kerja sehingga masyarakat di desa tidak perlu lagi berpikir ke kota mencari kerja atau jadi buruh di daerah orang," kata Adha.

Selain itu kata dia, KID/P juga akan meningkatkan nilai tambah produk karena komoditas diolah dalam kawasan menjadi bahan jadi atau setengah jadi melalui industri.

Keunggulan lainnya kata Adha, melalui KID/P akan meningkatkan keterampilan masyarakat di desa karena masyarakat akan berpacu untuk meningkatkan keterampilannya dalam mengolah sumber daya yang tersedia di desa menjadi sesuatu yang bernilai tinggi.

"Kawasan industri desa ini juga akan mendorong terbangunnya infrastruktur di desa, untuk menunjang aktivitas perekonomian dalam kawasan," katanya.

Dirinya yakin dengan adanya kawasan industri di desa akan mempercepat pembangunan jalan ke kantong-kantong produksi, bahkan pelabuhan bongkar muat, transportasi, dan pasokan listrik yang cukup.

Berikutnya kata Adha, KID/P akan menumbuhkan industri baru di desa khususnya industri pengolahan berbasis potensi desa.

Program ini juga kata Adha, akan meretas lahan terlantar di desa karena tingginya kebutuhan bahan baku sehingga akan memacu semangat masyarakat memanfaatkan lahan lahan terlantar untuk diolah.

"Otomatis akan meningkatkan pendapatan asli desa melalui retribusi dan pendapatan lainnya yang sah," katanya.