Sekjen PBB Peringatkan "Konsekuensi Buruk" Jika Terjadi Eskalasi di Timur Tengah
Sekjen PBB Antonio Guterres. (Sumber: UN/Eskinder Debebe)

Bagikan:

JAKARTA - Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa António Guterres mengutuk serangan mematikan terhadap Kedutaan Besar Iran di Damaskus, Suriah, menurut sebuah pernyataan yang dikeluarkan pada Hari Selasa.

Sekjen Guterres menegaskan kembali pentingnya mengikuti hukum internasional dan tidak menargetkan lokasi atau personel diplomatik dan konsuler.

"Dia memperingatkan setiap kesalahan perhitungan dapat menyebabkan konflik yang lebih luas di wilayah yang sudah bergejolak, dengan konsekuensi yang menghancurkan bagi warga sipil yang telah mengalami penderitaan yang belum pernah terjadi sebelumnya di Suriah, Lebanon, Wilayah Pendudukan Palestina, dan Timur Tengah," bunyi pernyataan itu, dikutip dari CNN 3 April.

Mengingat situasi genting di Timur Tengah, Sekjen Guterres meminta semua pihak yang terlibat menahan diri untuk mencegah eskalasi lebih lanjut.

Ia juga menyatakan, semua negara mempunyai kewajiban untuk menjunjung tinggi komitmen berdasarkan hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional, sekaligus mendesak menghindari tindakan yang dapat membahayakan warga sipil atau infrastruktur sipil.

Iran dan Suriah menuduh Israel mengebom kompleks kedutaan besarnya di Suriah pada Hari Senin, yang menewaskan sedikitnya tujuh pejabat militer Teheran. Iran berjanji akan membalasnya.

Presiden Ebrahim Raisi mengatakan pada Hari Selasa, Iran akan membalas serangan udara yang dicurigai dilakukan Israel terhadap konsulatnya dan menewaskan tujuh pejabat militer negara itu di ibu kota Suriah, Damaskus.

"Setelah gagal menghancurkan keinginan front perlawanan, rezim Zionis (Israel) telah menempatkan pembunuhan membabi buta kembali ke dalam agendanya untuk menyelamatkan dirinya sendiri. Rezim Zionis harus tahu bahwa mereka tidak akan pernah mencapai tujuannya dan kejahatan pengecut ini tidak akan luput dari pertanggungjawaban," kata Presiden Raisi, menurut media pemerintah, melansir Reuters.

Diketahui, serangan tersebut menewaskan sedikitnya tujuh pejabat militer Iran, termasuk Brigjen Mohammed Reza Zahedi, seorang pejabat tinggi di Garda Revolusi Iran (IRGC) serta komandan senior Mohammad Hadi Haji Rahimi.

Di sisi lain, militer Israel mengatakan kepada CNN bahwa mereka tidak mengomentari laporan asing, namun juru bicara militer mengatakan, Israel yakin target yang diserang adalah "bangunan militer pasukan Quds," sebuah unit Korps Garda Revolusi Islam yang bertanggung jawab atas operasi luar negeri.

"Saya ulangi, ini bukan konsulat dan ini bukan kedutaan. Ini adalah gedung militer pasukan Quds yang menyamar sebagai gedung sipil di Damaskus," kata Laksamada Muda Daniel Hagari dalam wawancara dengan CNN.