Bagikan:

JAKARTA - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) memetakan sejumlah kawasan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) yang paling berpotensi mengalami bencana longsor saat memasuki musim hujan.

Kepala Pelaksana BPBD DIY Noviar Rahmad mengatakan pemetaan dilakukan di Kabupaten Kulon Progo, Bantul, Gunungkidul dan Sleman.

"Yang paling banyak memang Kulon Progo, (potensi longsor) paling tinggi," kata Noviar seusai apel kesiapsiagaan menghadapi musim hujan di Lapangan Kenari, Yogyakarta, Selasa 21 November, disitat Antara.

Menurutnya, pemetaan kawasan berpotensi longsor dilakukan seiring banyaknya retakan tanah yang muncul akibat kekeringan sepanjang musim kemarau.

"Retakan-retakan selama kekeringan ketika diguyur hujan yang lebat itu akan berpotensi terjadinya longsor," kata dia.

Karena itu, Noviar mengimbau masyarakat, khususnya yang tinggal di kawasan perbukitan segera mencari titik aman manakala mengetahui munculnya retakan tanah di sekitarnya.

"Longsor itu adalah bencana alam yang memang tidak bisa diprediksi, tetapi kita bisa petakan potensinya sehingga ketika ada potensi harus segera menghindarkan diri," ujar Noviar.

Menurut Noviar, saat ini sudah terbentuk 332 kelurahan tangguh bencana di DIY yang masing-masing telah memiliki forum pengurangan risiko bencana (PRB).

Dengan demikian, seluruh warganya telah memperoleh edukasi serta pemahaman mengenai tindakan yang perlu dilakukan kala terjadi bencana.

Melalui apel kesiapsiagaan menghadapi musim hujan itu, Noviar memastikan seluruh personel komponen penanggulangan bencana di DIY siap membantu masyarakat menghadapi potensi bencana dengan didukung peralatan yang dimiliki.

Sementara itu, Kepala Bidang Penanganan Darurat BPBD DIY Lilik Andi Aryanto menambahkan pemetaan dilakukan bersama Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).

BPPTKG, kata Lilik, telah memetakan retakan tanah di wilayah Kabupaten Kulon Progo khususnya di pegunungan Menoreh dan berdasarkan hasil semetara ditemukan beberapa potensi retakan tanah di pegunungan tersebut.

"Langkah untuk mengatasi retakan tersebut sebenarnya mudah, cukup ditutup dengan tanah yang ada di sekitar. Jadi dengan ditutup tanah yang sama akan aman," ujar dia.

Selain Pegunungan Menoreh, menurut dia, pemetaan juga dilakukan di Kabupaten Gunungkidul karena sebelumnya pernah terjadi longsor di Kecamatan Semin.

"Menurut informasi dari teman-teman BPBD Kabupaten Gunungkidul sudah ditutup sehingga mudah-mudahan aman," kata dia.

Lilik memastikan seluruh kawasan berpotensi longsor itu jauh dari permukiman warga.