Bagikan:

JAKARTA - Direktur Jenderal Badan Energi Atom Internasional (IAEA) Rafael Grossi pada Hari Senin mengatakan, para ahlinya "tidak akan memakan waktu terlalu lama" untuk menentukan apakah Iran telah melakukan upaya yang disengaja untuk memperkaya uranium mendekati kemurnian 90 persen, tingkat yang cukup tinggi untuk menghasilkan bom nuklir, atau apakah lonjakan itu tidak disengaja.

Berbicara beberapa hari setelah mengumumkan kesepakatan baru dengan Iran akan memungkinkan IAEA untuk melakukan kegiatan pemantauan lebih lanjut, Grossi menyebut inspekturnya akan melakukan "pekerjaan yang melelahkan" untuk merekonstruksi kemajuan nuklir Iran baru-baru ini.

"Hal-hal terus terjadi tanpa kami mendapatkan informasi apa pun dan mudah-mudahan ini akan berhenti sekarang," kata Grossi kepada wartawan di Wina, Austria, melansir The National News 7 Maret.

"Inspektur saya tidak hanya harus menafsirkan dan membaca kumpulan informasi ini, tetapi juga akan ada celah yang sebenarnya, karena apa yang tidak direkam atau direkam, kami tidak dapat membuat ulang," tambah Grossi.

Iran memutus kamera pengawas di fasilitas nuklir miliknya sembilan bulan lalu, setelah badan PBB meminta jawaban mengenai jejak uranium yang tidak dapat dijelaskan di tiga wilayah yang seharusnya tidak didedikasikan untuk aktivitas nuklir.

"Akan ada kebutuhan bagi kami untuk duduk bersama rekan-rekan Iran kami, melihat catatan, menyepakati langkah-langkah spesifik tertentu untuk mencoba merekonstruksi teka-teki ini," sambungnya.

Sebelumnya, partikel uranium yang diperkaya hingga 83,7 persen telah terdeteksi di fasilitas nuklir bawah tanah Iran Fordow, sekitar 100 km selatan Teheran. Itu tepat di bawah 90 persen yang dibutuhkan untuk menghasilkan bom atom, menurut laporan IAEA.

fasilitas nuklir fordow
Fasilitas nuklir Fordow milik Iran. (Twitter/@TheIntelLab)

Grossi mengatakan, ini adalah perkembangan serius yang sedang diselidiki inspekturnya, tetapi dia juga mencatat bahwa lonjakan memang terjadi.

"Saya harus mengatakannya. Atau saya akan langsung menyimpulkan bahwa itu adalah bagian dari kampanye pengayaan yang disengaja mendekati 90 persen yang akan menimbulkan konsekuensi serius," ujarnya.

Inspektur akan dapat menentukan apakah "ini adalah kesengajaan, atau kejadian satu kali, atau apakah ada kegiatan yang lebih khusus", sebut Grossi.

Sementara itu, Iran membantah ingin memperoleh senjata atom, mengatakan tidak melakukan upaya untuk memperkaya uranium di atas kemurnian 60 persen.

Namun Teheran mengatakan, "fluktuasi yang tidak diinginkan … mungkin telah terjadi" selama proses pengayaan.

Sebuah pernyataan bersama yang dikeluarkan pada Hari Sabtu setelah kembalinya Grossi dari Teheran berbunyi, Iran "menyatakan kesiapannya untuk ... memberikan informasi lebih lanjut dan akses untuk mengatasi masalah pengamanan yang luar biasa", merujuk pada jejak uranium.

Iran juga akan mengizinkan secara sukarela badan tersebut untuk melaksanakan kegiatan pemantauan lebih lanjut. "Modalitas akan disepakati antara kedua belah pihak dalam pertemuan teknis yang akan segera berlangsung di Teheran," sebut pernyataan itu.

Berbicara dari bandara Wina, Grossi juga mengatakan pada Hari Sabtu, IAEA akan mendapatkan akses ke orang-orang yang berkepentingan dalam penyelidikan jejak uranium di situs yang tidak diumumkan.

iaea
Rafael Grossi dan tim IAEA. (Sumber: IAEA Imagebank)

Namun, juru bicara Organisasi Energi Atom Iran Behrouz Kamalvandi kemudian mengatakan kepada outlet berita negara Irna, masalah akses "tidak pernah diangkat" selama kunjungan Direktur Jenderal IAEA.

Ditanyai pada Hari Senin oleh wartawan tentang kontradiksi yang tampak dengan pernyataannya, Grossi mengatakan tidak semuanya "ditulis di atas kertas."

"Anda mungkin telah mencatat, dalam pernyataan bersama ada referensi modalitas tertentu yang perlu disepakati," lanjutnya.

Ditambahkannya, tim teknis akan "segera" melakukan perjalanan ke Iran untuk diskusi teknis, menolak memberikan daftar rinci tempat atau tanggal yang terkait dengan proses ini.

"Saya puas bahwa kita tampaknya bergerak ke arah yang lebih tegas," ujar Grossi tentang diskusi diskusi baru-baru ini dengan para pejabat Iran, termasuk pertemuan pertamanya dengan Presiden Ebrahim Raisi.

"Kami melihat substansi nyata dalam hal (fasilitas) Fordow, di mana agensi akan melakukan pemeriksaan hampir setiap hari," tambahnya.

Diketahui, Teheran dan IAEA telah berselisih sejak Iran mundur dari komitmennya di bawah Kesepakatan Nuklir 2015, yang runtuh setelah AS menarik diri pada 2018.

Iran sejak itu meningkatkan pengayaan uraniumnya, menolak seruan untuk menjelaskan keberadaan jejak unsur tersebut di situs yang tidak diumumkan.