Tertekan Pandemi COVID-19 dan PSBB, Banyak Peritel Bakal Bangkrut
Lustrasi. (Foto: Tim Mossholder/Unsplash)

Bagikan:

JAKARTA - Tingkat kunjungan atau okupansi dari pusat perbelanjaan atau mal mengalami penurunan selama pandemi COVID-19. Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang diterapkan pemerintah juga turut serta menyebabkan okupansi pusat perbelanjaan semakin lesu.

Seperti diketahui, saat ini tingkat kunjungan mal atau pusat perbelanjaan dibatasi hanya boleh 50 persen selama diberlakukannya PSBB transisi. Tak hanya itu ada kebijakan baru yakni pembatasan jam operasional yakni paling malam pukul 21.00 WIB.

Senior Associate Director Colliers International Indonesia Ferry Salanto mengatakan, kondisi tersebut menyebabkan banyak peritel di pusat perbelanjaan atau mal semakin tertekan. Akibatnya, sebagain dari mereka tak mampu bertahan dan terpaksa harus menutup usahanya.

"Jadi para peritel ini kekurangan traffic yang masuk ke mal, transaksi juga menurun sehingga mereka ada juga yang tidak bisa bertahan dan itu juga akhirnya mempengaruhi tingkat hunian," tuturnya, dalam diskusi virtual, Rabu, 6 Desember.

Ferry berujar, sepinya kunjungan di pusat perbelanjaan tersebut masih akan terus berlanjut di tahun 2021. Menurutnya, akan semakin banyak pengusaha yang memilih tak melanjutkan ritel mereka di pusat perbelanjaan.

Lebih lanjut, Ferry berujar, jika PSBB semakin diperketat dan jumlah pengunjung mal juga turut dikurangi, sebagian besar pengusaha ritel ini tidak bisa bertahan. Artinya, sudah berada di ambang kebangkrutan.

"Beberapa penyewa ini sudah sangat kritis. Artinya mereka sulit bertahan dengan kondisi dalam mal yang sangat berkurang. Apalagi kalau terus-terusan terjadi pandemi, kemungkinan banyak yang tidak mampu bertahan dan itu juga akan mempengaruhi sewa dari pusat perbelanjaan," ucapnya.

Di sisi lain, Ferry mengatakan, bisnis ritel adalah jenis usaha yang menitikberatkan pada keramaian dan kerumunan. Jika tak ada kerumunan atau keramaian maka penjualan juga akan mengalami penurunan. Sementara, kerumunan di masa pandemi COVID-19 ini sangat dilarang.

"Padahal mal itu mereka butuh keramaian, kerumunan sedangkan kerumunan ini hal-hal yang dihindari selama pandemi dan itu tidak bisa dipungkiri mempengaruhi kinerja para peritel," jelasnya.

Ferry mencontohkan untuk daerah Jakarta, di kawasan Central Business District (CBD) okupansi turun dari 83,5 persen pada tahun 2019 menjadi 80,7 persen pada tahun 2020. Sedangkan, daerah yang mengalami penurunan cukup tinggi adalah daerah Bogor yang penurunannya mencapai 20 persen.

"Penurunan ini angkanya tidak terlalu tinggi tapi dari sales-nya sangat berpengaruh," ucapnya.