Buru Kelompok Ali Kalora di Sigi, TNI AD dan Marinir Diterjunkan
Ilustrasi (Irfan Meidianto/VOI)

Bagikan:

JAKARTA - Sejumlah personel tambahan diterjunkan untuk memburu kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora di Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Tambahan personel ini untuk memperkuat Satgas Tinombala.

"Informasi tambahan dari TNI AD, dan marinir Angkatan Laut sebanyak 30 orang baru tiba digeser dari Poso," ujar Karo Penmas Divisi Humas Polri, Brigjen Awi Setiyono kepada wartawan, Selasa, 1 Desember.

Selain itu, Polri juga menggandeng sejumlah tokoh-tokoh agama dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Forum Umat Kirsten Indonesia (FUKRI) hingga Komnas HAM. Tujuannya sebagai langkah pencegahan agar insiden itu tak terulang kembali.

"Memang untuk meredam situasi Kamtibmas di sana terkait dengan ada beberapa korban dari agama tertentu," ungkapnya.

Di sisi lain, kata Awi, insiden pembamtaian itu tak berkaitan dengan SARA. Berdasarkan hasil penyelidikan sementara, insiden itu murni berlatarbelakang aksi teror.

"Ini kasus murni kasus teror yang dilakukan oleh Mujahidin Indonesia Timur dan kelompok Ali Kalora cs," kata dia.

Diberitakan sebelumnya, aksi teror yang dilakukan kelompok MIT pimpinan Ali Kalora ini terjadi pada Jumat, 27 November sekitar pukul 09.00 WITA dan kabarnya sampai ke polisi pada pukul 13.00 WITA. Peristiwa ini terjadi di Desa Lemban Tongoa, Kecamatan Palolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Dari peristiwa ini, ada empat korban yang dinyatakan meninggal dunia.

"Keempat korban bernama Yasa, Pinu, Naka, dan Pedi. Keempat orang ini adalah keluarga Ulin yang menjadi saksi pelaporan," kata Kabid Humas Polda Sulteng, Kombes Didik Suparnoto saat dihubungi wartawan, Sabtu, 28 November.

Berdasarkan keterangan saksi mata, bernama Ulin, kelompok MIT yang dipimpin Ali Kalora mendatangi rumah Ulin di Desa Lemban Tongoa dan menyandera keluarga Ulin yang berhasil kabur.

Ayah Ulin, Yasa, dan suami Ulin, Pinu, tewas dibunuh oleh kelompok ini. Sedangkan, kematian Naka dan Pedi belum diketahui sebabnya. Sementara istri Yasa bernama Nei selamat meski mengalami sejumlah luka di tubuhnya. Setelah melakukan aksinya, para pelaku mengambil beras sebanyak 40 kilogram dan membakar enam rumah yang ada di sekitar lokasi pembunuhan.