Geledah Kantor PT ACK, KPK Temukan Barang Bukti Terkait Suap Ekspor Benur
Gedung KPK /DOK. VOI

Bagikan:

JAKARTA - Tim penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan penggeledahan di salah satu kantor milik PT Aero Citra Kargo (ACK), perusahaan tunggal yang ditunjuk sebagai pengirim benur atau benih lobster.

Penggeledahan ini dilakukan KPK untuk mengusut dugaan suap ekspor benur, setelah Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo ditetapkan sebagai tersangka suap.

"Senin, 30 November, penyidik KPK kembali melakukan kegiatan penggeledahan disalah satu kantor milik PT ACK yang berlokasi di Jakarta Barat. Penggeledahan berlangsung hingga pukul 02.30 WIB dinihari," kata Plt Juru Bicara KPK bidang penindakan Ali Fikri kepada wartawan melalui keterangan tertulis, Selasa, 1 Desember.

Usai penggeledahan, sejumlah barang bukti dibawa penyidik KPK. Adapun barang bukti yang ditemukan berupa dokumen dan bukti elektronik lainnya yang tak dirinci Ali.

"Barang yang ditemukan dan diamankan tim diantaranya adalah beberapa dokumen terkait dengan ekspor benih lobster dan bukti elektronik," ungkapnya.

Barang bukti ini akan diinvetarisir dan dianalisa oleh penyidik komisi antirasuah. Selanjutnya, kata Ali, tim masih akan melakukan penggeledahan di lokasi lainnya.

"Namun tidak bisa kami sampaikan lebih jauh terkait tempat dan waktu pelaksanaan kegiatan dimaksud," tegasnya.

Sebelumnya, tim penyidik KPK juga telah melakukan penggeledahan di kantor Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Hasilnya, KPK saat itu menyita uang tunai rupiah dan mata uang asing yang tak disebutkan berapa nominalnya.

Selain itu, tim KPK juga menyita beberapa dokumen dan barang bukti elektronik terkait dengan perkara dugaan suap Edhy Prabowo.

Terkait dugaan suap ekspor benur, Edhy disebut menerima uang suap sebesar Rp3,4 miliar yang kemudian sebanyak Rp750 juta digunakan untuk membeli barang mewah di Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat. Adapun barang yang dibelinya berupa tas, baju,  jam tangan mewah bermerk Rolex, hingga sepeda.

Adapun dalam kasus ini, Edhy Prabowo ditetapkan sebagai tersangka penerima suap bersama lima orang lainnya yaitu: Stafsus Menteri KKP Safri (SAF) dan Andreau Pribadi Misanta (APM); Pengurus PT Aero Citra Kargo (PT ACK) Siswadi (SWD); Staf istri Menteri KKP Ainul Faqih, dan Amiril Mukminin (AM).

Sementara pemberi suap adalah Direktur PT Dua Putra Perkasa Pratama (PT DPPP) Suharjito (SJT).

Edhy Prabowo bersama sejumlah tersangka ditangkap oleh tim penindakan KPK di Bandara Soekarno-Hatta, Cengkareng, Tangerang setibanya dari Honolulu, Hawaii, Amerika Serikat. Edhy bersama tersangka lainnya langsung ditahan KPK.