'Dampaknya Sangat Besar', Analisa BNPT Tentang Sepak Terjang Jaringan Terorisme Global untuk Indonesia
Kepala BNPT, Komisaris Jenderal Polisi Boy Rafli Amar (Foto via Antara)

Bagikan:

JAKARTA - Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal (Komjen) Polisi Boy Rafli Amar memaparkan dampak buruk perkembangan jaringan terorisme internasional bagi Indonesia.

"Seberapa besar dampaknya bagi Indonesia? Dampaknya sangat besar," kata Komjen Boy Rafli dalam diskusi daring bertajuk "Deteksi Dini Modus Perkembangan Gerakan Radikalisme" yang dipantau di Jakarta, Senin 4 Juli dinukil dari Antara.

Boy mengatakan dari tiga jaringan terorisme global, yakni ISIS, Al Qaeda, dan Taliban, maka ISIS paling mendominasi. Ketiga kelompok tersebut setali tiga uang karena memiliki kesamaan ideologi.

Dampak buruk dari pengaruh jaringan terorisme tersebut ialah beberapa organisasi di Tanah Air terafiliasi dengan kelompok terorisme global, katanya.

Boy mencontohkan propaganda yang dilakukan ISIS sejak 2013 di mana 2.157 Warga Negara Indonesia (WNI) laki-laki dan perempuan membawa anak-anak ke Suriah dan Irak untuk bergabung dengan kelompok tersebut.

Kelompok jaringan teroris tersebut mengiming-imingi atau menjanjikan para WNI akan berdirinya sebuah negara yang bisa memberikan jaminan hidup jauh lebih baik.

Lewat apa? Mulai dari gaji 2.000 dolar AS, asuransi kesehatan, pendidikan, dan lain sebagainya. Padahal, janji itu tidak pernah ada.

"Itu propaganda yang fatamorgana atau sesuatu yang tidak jelas, tetapi diikuti WNI," kata dia.

Dari data yang dihimpun BNPT, kondisi para WNI yang berangkat tersebut memprihatinkan. Tercatat 550 sudah dipulangkan ke Tanah Air dan 200 orang meninggal dunia.

Selain itu masih terdapat WNI yang berada di kamp pengungsian ibu dan anak serta kelompok laki-laki ditahan di Suriah.

Berdasarkan catatan United Nation, sebut Boy, sekitar 40 hingga 45 ribu masyarakat dari berbagai negara datang ke Irak dan Suriah untuk ikut berperang melawan negara yang pemerintahannnya sah.

Ia menambahkan meskipun dua pemimpin ISIS sudah mati dan kelompok terorisme tersebut melemah, mereka tetap berkembang di kawasan lain, terutama di Afrika.

"Di Indonesia, termasuk banyak warga negara kita yang terafiliasi ke sana," ujarnya.